Tuesday, 16 August 2016

Kertas dan Pena (Just Sharing)

  • Seseorang pernah berkata kepadaku, 

  • "Jika kau sedang membutuhkan seorang untuk diajak berkomunikasi? Tulislah. Bertemanlah dengan kertas dan pena. Tulislah apa yang kamu rasakan, apa yang kamu pikirkan. Hingga rasa dan beban mu seketika hilang. Mungkin bisa menjadi sebuah puisi indah untuk dilihat dan didengar. Karena puisi yang baik adalah berasal dari hati. 

  • Namun jika kamu merasa belum puas? Carilah teman. Teman yang bisa saling berbagi rasa, berbagi derita, dan saling bertukar pikiran untuk mencari solusi bersama2. 

  • Namun jika merasa belum puas dengan solusi dari manusia? Ajaklah tuhan. Ikut sertakanlah DIA dalam setiap komunikasi mu. Karena sesungguh nya jawaban terbaik dan solusi terbaik adalah dari - Nya. Hablum minallah dulu, baru hablum minannas. 

  • Karena ketika kamu sedang dalam masalah? Karena ketika hati mu merasa sakit, allah sengaja mematahkan hatimu, allah sengaja membuat mu terjebak dalam masalah. Karena sesungguhnya allah rindu dengan kita. Allah rindu dengan kita yang selalu dekat dengan-Nya. Dan itu menjadi sebuah peringatan agar kita kembali ke jalan-Nya". .
    .
    Karena Hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan macam ibadah (HR. Ibnu Katsir). Dan (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. 8:9). 

Like

Saturday, 13 August 2016

Berteduh dalam hujan

Dalam hati masih bertanya
Kapan terakhir kali hujan menerkam ku dalam takut?
Dalam benak masih bertanya
Kapan terakhir kali keluar dalam badai?
Mengapa aku selalu berteduh kala hujan datang?
Sementara paying diciptakan untuk melindungi dalam hujan?
Bukannya mudah tinggal buka saja payung dan gunakanlah diatas kepalamu?
Namun mengapa aku masih tetap bertahan dalam hujan, berteduh dalam dingin?
Mungkin kegilaan sudah merenggut otak ku
Sehingga logika tidak sebanding dengan jalan yang terbentang luas
Apa salahnya memilih didepan mata yang lebih mudah,
Sedang kita memilih jalan pintas yang dianggap pantas?
Tapi aku ya aku. Aku masih berteduh dalam hujan
Tak heran dingin badai hingga petir menerjangku
Walau bahaya didepan mata, namun aku tak peduli.
Tak pernah berlogika, tak pernah bersua, dan tak pernah sekalipun mencoba
Hanya aku, dan hujan.

Resiko dan kematian.