HOPE..
By : Adian Dee
Keinginan ku
untuk hal itu tidak lah ada. Tak akan ada. Sampai kapanpun tak akan ada. Hingga
usiaku bertambah makin tua, semakin tua, dan semakin tua, hingga mati pun,
harapan tidak ada. Never. I just trust it. There’s nothing dream, hope for the
future. Tidak ada….
#1 : Impossible
Pagi ini
hanya pagi biasa. Nothing special. Kemacetan dijalan raya sudah mulai terlihat,
banyak pengguna jalan yang rusuh akibat kemacetan itu sendiri. Mungkin karena
ini hari senin. Banyak pembantu kantoran, anak sekolah masih polos yang tidak
tau tentang negara, pelayan pemerintah, hingga penguasa jalan raya ada disana.
Aku hanya menyaksikan kericuhan dari atas pencakar langit, dan menikmati
kebisingan suara kendaraan saja. Ya, aku hanya kumpulan daging yang tidak
mempunyai apa – apa. Hanya gedung tua bekas kebakaran beberapa tahun yang lalu,
yang masih kokoh sehingga tempat inilah aku jadikan tempat tinggal permanen ku.
Walaupun aku sering dikejar – kejar pelayan pemerintah karena identitas ku
entah kemana pergi nya. Ya, it’s me. Dengan segala keblangsakan ku. Setidaknya
hari ini adalah makanan tersajikan dengan sangat buruk, namun aku bisa
menikmatinya.
Pagi? Iya
pagi. Kenapa aku tidak pergi dari sini. Mencari nasi dan secangkir kopi untuk
aku nikmati. Sembari bersantai ria dari ketinggian sekitar 45 meter, memandang
pemerintah yang sebentar lagi bobrok akibat inflansi dari Negara lain. Tetap
merdeka hanyalah kata usang tak pernah terwujud. Sebentar lagi papua hanyalah
kubangan penderitaan dan sebentar lagi neraka menyambut papua.
Lagian apa
hak ku memikirkan Negara ini? Abaikan saja. Setidaknya arya datang membawakan
ku roti isi dan kopi hitam sesuai dengan pesanan ku setiap hari. Ya, setidak
nya aku masih punya sahabat yang tidak se anjing para koruptor, yang sedang
berleha leha.
“Hey Ardi,
sang politikus miskin karena terlalu ikut campur urusan Negara. Kubawakan
pesanan mu sesuai permintaan”
“Hey Arya,
sang konglomerat penguasa papa tajir. Terima kasih atas bantuan mu. Kau boleh
pergi dari sini. Tugas mu sudah selesai”
“What the
hell? Udah berapa lama kita sahabatan? Berani nya elo ngusir gue dari gubuk
elo.”
“Eits,
jangan menghina pemberian tuhan. Inilah istana gue. Istana kebebasan yang gue
idamkan selama ini.”
“Maksudnya
elo terpaksa tinggal disini karena bokap lo.”, sialan. Arya buat aku membuka
tawa pagi ini. Dialah sahabat yang tidak akan sebangsat para pengkhianat
disana.
“Hari ini
elo mau kekantor?” Tanya arya.
“Tidak,
tidak ada berita hari ini yang menarik. Karena aku hanya ingin berita yang
berbobot, agar bayaran ku tinggi.”
“Kenapa elo
gak pindah aliran aja. Jadi wartawan entertainment kek, atau sport, atau
travelling. Kan banyak uangnya. Elo bisa tenang deh gak diteror lagi sama body
guard disana.”
“aku terlalu
cinta sama dunia politik. Apalagi menjadi komentator dan menjadi judgement bagi
para budak pemerintah. “
“Iya saking
cinta nya, elo sendiri tidak sempat memikirkan diri elo sendiri. Tidak pernah
memikirkan pernikahan. Inget ya, kita ini umur 28 tahun. Udah saatnya lo
memiirkan masa depan.”
“Enough. There’s nothing hope for me about it.
And, sepertinya gue ada kabar menarik
deh”
“Oh ya? Ok
kita ke lokasi sekarang.”.
“No, I just want to go by self. And you?
Pergilah kekantor. Bisa bisa bos mu menahan gaji mu hari ini. Kasihan Nadia dan
Ranti tidak bisa kau belikan baju dan sepatu untuk mereka.”, ya, aku hanya
ingin sendirian ketika arya membahas masalah pernikahan. Aku sudah muak dengan
kata kata itu. I just wanna be alone.
***********
Aku disini mengitari ibu kota yang menurut ku penuh dengan drama. Why?
Karena setiap hari aku diliput dengat banyak keluhan atas kekasaran pemerintah
dalam merangkul rakyat. Setiap hari dengan menenteng kamera jadul yang sudah
usang, namun sangat berarti untuk ku. Karena inilah aku banyak dibenci oleh sebagian
politisi di negara ku sendiri. Nama ku menjadi bahan pembicaraan dikalangan
elite. Hebatkan aku? Sebuah prestasi yang akan memenuhi track record ku dalam
sepanjang sejarah ku. Ok lupakan. Aku disini mencari sebuah kabar burung yang
datang dari smartphone pemberian arya. Yang katanya korupsi datang dari
kalangan pejabat rakyat. Aku tak tahu kebenarannya. Lantas aku akan diam saja?
Tentu tidak. Aku terus selidiki hingga tuntas. Aku bukan aparat negara, namun berita
ku sangat dibutuhkan dikalangan rakyat.
Hari ini dengan terik
matahari yang sangat panas. Ok kita bicara seputar es teh manis. Dengan abang
es teh yang selalu udar ider
menjajaki setiap ibu kota mengais rejeki dengan caranya sendiri. Duduk
disebelah abang es teh sambil berbincang mengenai keluhannya.
“Pak sudah berapa lama disini?”
“Wah saya mah udah lama disini.
Sekitar 15 tahun lah”
“Wah lama juga ya. Menurut bapak pemerintahan jaman sekarang sama jaman
dulu bagaimana?”
“Wah beda mas. Kalau jaman dulu saya tuh bisa beli minyak goreng seharga
Rp.1200,- per liter. Tapi sekarang mah ampun
deh. Beli beras aja sama kayak harga rokok murahan sebungkus”.
“Iya juga sih. Tapi bukannya pemerintahan jaman sekarang lebih tegas ya
dibandingkan pemerintahan dulu?”
“Iya tegas. Hanya saja untuk masalah pembersihan koruptor masih aja belum
tuntas. Bagaimana indonesia mau maju kalau para penjahat saja masih saja
dilindungi? Seharusnya presiden fokus sama pembersihan para koruptor dengan
cara pro dengan program KPK”. Wah, ini menarik untuk aku jadikan artikel. Dan
aku gak pernah menyangka, seorang abang yang jualan es teh keliling bisa
berbicara yang berbobot seperti ini. Wah perlu saya jadikan artikel dan kalau
dimuat di situs blog bisa jadi bernilai mahal.
Dan selanjutnya kami
berbincang mengenai politik di negara ini. Aku gak pernah menyangka. Dan
seharusnya seperti ini masyarakat pintar dalam menilai pemerintahan. Jangan
asal dikasih nasi uduk plus uang satu lembar berwarna biru dua atau merah satu
lembar mau aja dan tunduk aja sama pemerintah yang bandel nya gak ketulungan.
Keren punya partner yang dapat dijadikan kritikus seperti abang es teh ini.
Tak terasa satu jam
lamanya kami berbincang. Akhirnya aku melanjutkan perjalananku untuk melihat
ibu kota dan mengkritik dengan versi ku. Seorang jurnalis sejati tak dapat
dikalahkan apabila berita nya dimuat berbobot sehingga para politisi dan
kalangan elite menjadi marah dan membenci. Itulah yang kusuka. Walaupun nyawa
taruhannya? Kebenaran harus selalu diutamakan dan ditegakkan.
***********
#2
– Kirana ku, Kembalilah!
16.30 jam
ibu kota
Didalam kereta ini aku merasa banyak
keluhan dari para rakyat yang tidak suka dengan kepemerintahan ini. Apalagi
aku, aku adalah sebuah buronan negara (mungkin). Ya hidupku benar
benar tidak diperuntukkan untuk bahagia dinegara ini. Sebaiknya aku lebih
memilih pindah saja menjadi warganeraga asing. Hanya saja kecintaan ku pada
negara ini sangatlah besar. Tiba tiba suara handphone ku berbunyi. Apakah ini
sebuah panggilan kerja, atau salah satu dari pembunuh bayaran untuk meneror ku?
Sudahlah. Kita lihat saja.
“Hey Ardi, datanglah ke markas. Ada rencana besar dan ini membutuhkan
bantuanmu. Tenang saja. Segepok uang untuk uang muka ada untukmu. Datanglah
kemari. Aku tunggu jam 9 malam nanti.
Kirana”
Kirana, oh kirana. Wanita idaman semenjak smu. Aku tak menyangka wanita
idaman ku kini menjadi pelacur yang dijual bebas murahan. Mungkin alasan inilah
mengapa aku tak dapat membuka hati untuk wanita lain. Pesona mu membuat aku tak
berdaya lemah bagaikan arwah melayang. Kirana, oh kirana.
21.00 pm
waktu ibukota
Yang dimaksud markas
adalah tempat hiburan malam dan kirana selalu melayani tamu nya disana. Mengapa
aku tahu? Karena aku tahu. Karenanya aku hampir mati disini karena aku tak sudi
melihat lelaki lain menyentuh tubuhnya. Dan ribuan bogem mentah mendarat hingga
oleh oleh yang kubawa hidung dan tulang rusukku patah. Setibanya disini, kirana
yang selalu menggodaku dengan paras wajahnya nan anggun kini ia harus tampil all out dengan dress yang setengah lingerie ini. Ia menyambutku dengan
ciuman panas dan oh... sungguh aku terbuai olehnya.
“Kau datang juga ardi”, ia menarik jaket kumuh ku, menarikku dan
mengantarku pada sosok yang sudah tak asing lagi bagi ku. Ya, dia adalah
penguasa rakyat jelata di seluruh indonesia, Reinaldi alias Bopeng, dia adalah mafia
besar bagi ku. Perlu kalian tahu, dialah
yang membeli tubuh indah kirana wanita yang aku cintai selama ini.
“Sudah lama juga kita tidak bertemu, wahai wartawan tengil”
“Hey kau maha segalanya. Ada urusan apa denganku?”
“Elo tau kan gue maju jadi calon pejabat negara?” lho urusannya dengan ku apa? Masa bodo bukan urusanku. Kembalikan
kirana padaku!
“So, what’s your problem?”
“Gue mau elo tulis dan rekayasa fakta dengan elo memfitnah mereka. Ini list
nama yang pengen gue singkirkan!”. Dengan sombongnya ia melemparkan sebuah kertas
usang berisikan nama – nama penting dan sangat penting di kalangan pejabat
negara. Betapa sedih dan kaget, rupanya Wirawan Nugraha, Seorang Ketua Komisi
di jajaran DPR termasuk salah satunya.
“Ini list namanya, dan gue mau elo tulis dan rekayasa fakta yang ada. Dan
ini uang muka buat elo, dan sebagai hadiah terima kasih, elo bebas menikmati
tubuh indah permaisuriku.”, betapa jijik nya aku melihat bopeng berkata bak
penguasa. Aku tahu ia seorang mafia terbesar bahkan polisi pun tidak berani
dengannya. Demi apapun aku tidak akan memfitnah orang yang benar. Walaupun aku
benci dengan sistem kepemerintahan sekarang tidak seperti zaman soekarno dulu,
namun aku bersumpah tidak akan menulis tentang kebohongan. Aku tahu, Wirawan
Nugraha adalah seorang politisi yang mempunyai track record yang sangat luar biasa. Bahkan akupun mengaguminya.
Atas nama tuhan beserta isinya, aku tidak akan menulis dan tidak akan mau. Aku
bersumpah!.
“Tidak. Tidak akan pernah segores pun tangan ini mengotori kertas ku
tentang kebohongan. Tidak akan.”
“Oh jadi elo mulai berani ngelawan gue? Kirana....”, dan wanita ku cinta
pertama ku datang kepadanya dengan gaya erotis menggoda datang menghampiri si
brengsek itu. Aku muak dengan nya. Dengan senyuman maut nya, ia membalas
sahutan keparat itu.
“Hey kirana sayang wanita ku, tolong
....................................................” si brengsek itu
membisikkan perintah untuk kirana. Oh tidak, akal busuk apalagi yang akan aku
hadapi? Oh tuhan, lindungi aku. Kini kirana mendekatiku dan membawaku jauh
tenggelam dalam rayuan setan. Oh tuhan kucinta kirana. Sungguh aku tak kuasa
dibuatnya. Kini ia menarikku lebih dalam saat yang lain pada pergi entah
kemana. Pintu ruangan dikunci rapat, entah siapa yang menguncinya. Oh kirana,
hentikan semua akal busuk si brengsek itu.
********************
“Kirana, aku
mohon hentikan!”
“Bagaimana,
kamu menikmatinya? Sudah lama kita tidak bercinta lagi.”, what? Persetan macam apa? Bahkan aku tak kuasa menyentuh sedikitpun
tubuh mu. Memandangmu saja aku tak kuasa? Fitnah macam apa yang kau perankan
kirana? Tiba – tiba saja aku berpaling dan segera memakai baju ku yang
berserakan akibat ulah kirana. Sejujurnya aku memang menikmati, namun aku tak
sanggup lagi. Benar benar tak sanggup. Aku ingin kirana seutuhnya menjadi
milikku, bukan menjadi pion para iblis yan sengaja mensetting tubuh kirana.
“Kenapa,
kenapa kau hentikan setelah kau menikmatinya?” ucap kirana yang membuatku
semakin kesal padanya.
“Kirana, pakai
baju mu. Lalu kita pergi bersama. Kubawa kau pergi dari neraka ini.”
“Ayolah
sayang”, kini ia memelukku erat. Bahkan kurasakan buah dada nya menempel
kepunggungku. Dan aku, PLAKK!!! Maafkan aku kirana sayang, aku terpaksa
menampar pipi lembut mu. Kini ia hanya tersungkur kesakitan, sementara aku
mencoba memakaikan kembali baju yang ia gunakan. You know that, ia benar benar tanpa busana dan sehelai benang pun
tak ada pada tubuhnya.
“Kenapa
ardi, kenapa kau lakukan itu ke saya?”
“Maaf, aku
tak bisa menyiksamu lebih jauh. Dan aku tak mau menyiksa bathin ku lebih jauh.
Ku akui ciuman mu sangat lihai. Tubuh indah mu sungguh buat ku terpaku, dan
servis mu sungguh memuaskan. Tapi maaf aku tak bisa ikut denganmu. Ku akui aku
mencintaimu semenjak kau selalu memakai sweater biru muda berambut kepang dua.
Aku mencintaimu semenjak kau selalu perhatian pada buku buku yang kau baca. Dan
aku mencintaimu semenjak ibumu memperkenalkan ku padamu.”
“Kamu tahu
kan mengapa aku tak dapat bersamamu selamanya?”, akupun menghiraukan ocehan nya
sembari aku memakaikan baju padanya juga kubaluti syal dan sweater yang
kugunakan saat ini. Aku tak peduli. Yang kupedulikan hanyalah kirana saat ini.
“Ikutlah
denganku kirana. Kau aman bersamaku. Kubuat kau berada dalam lindunganku.”, dan
dari kejauhan pun, bopeng memunculkan wajah yang menjijikan dihadapanku . PROK…
PROK… PROK…. Kira kira seperti itulah ia bertepuk tangan.
“Wow sungguh
kisah cinta yang sangat tragis. Kirana, kemarilah”, kutahankan ia kembali
kepangkuannya.
“Tidak!”
“Berani ya
sekarang elo sama gue, wahai wartawan rendahan. Gue ha…”
“Kubuatkan
kesepakatan saja. Aku akan ikuti permainanmu, dan sebagai imbalannya kirana
menjadi milikku. Aku tak butuh receh hasi rampokan mu hari ini. Cukup
kembalikan saja kirana padaku. Bagaimana?”
“Sudah
berani ya sekarang. Elo menikmati tubuh permaisuriku dan sekarang elo
menginginkannya juga.”
“Sungguh
harga yang sangat adil bagiku. Kau butuh nama dariku, dan aku butuh kirana
darimu. Kita sama – sama mempunyai kepentingan. Jadi, lebih baik kau mengalah
dan ikuti permainanku”.
“Brilliant!. Oke gue ikutin permainan lo.
Elo akan tahu siapa gue sebenarnya. Dan gue akan….”
“Tanpa kau
sebut aku tahu siapa kau. Ayo kirana, mari pulang”. Akupun menarik kirana
keluar dari lingkar setan. Ada yang aneh, tanpa kekerasan, mengapa lebih mudah
dibandingkan yang dulu? Yang terpenting aku dan kirana selamanya. Aku
mencintaimu, Kirana Leswara.
“Jangan
senang dulu Ardi Kusmawardhani. Permainan kita baru saja dimulai. Gue buat elo
mati perlahan tersiksa.”.
********************
#3 : Oh Kirana ku…
07.00 am,
disebuah tempatku yang antah berantah....
Betapa senangnya aku, melihat kirana
pertama kali sedekat ini. Walau peluh bercucuran, air mata tak dapat tertahan,
muka lusuh pun ia tunjukkan padaku. Walaupun aku tak tahu apa yang harus aku
lakukan setelah ini. Kubuat kesepakatan bodoh dengan persetan ini. Aku tak
peduli. Hari ini seakan harapan yang lama mati bangkit kembali. Perjalanan dari
neraka itu menuju surga duniawi ku memang sangat jauh. Dan akupun tak dapat
membawa kirana dengan ferari mewah seperti para pejabat Negara punya. Hanya
tubuh ini yang dapat menopang tubuh kirana nan indah. Kita tak bisa tidur
hingga saat ini. Rasa canggung yang besar ini membuat kita terpaku pada hal
yang sama. Malu, ia ku akui malu, memalukan.
“Ardi,
maafkan aku. Aku…”
“Sudahlah
lupakan saja. Anggap aja semalam aku sedang mimpi basah. Ku akui aku ingin
bercinta dengan mu. Tapi aku tak mau menikmati hal indah itu karena tekanan
dari siapapun. “
“Maafkan
aku. Memang aku bodoh. Maafkan aku. Kini aku malu berdiri dihadapanmu yang maha
suci”.
“Jangan
samakan aku dengan tuhan. Tuhan maha segalanya. Aku? Aku hanyalah pendosa yang
mencoba untuk bertahan hidup, selagi tuhan memberiku waktu untuk hidup”.
“Ar….”,
entah kenapa aku menghampirinya dan memeluk kirana ku. Ku biarkan ia menangis
dipelukanku. Kubiarkan segalanya mengalir apa adanya. Kubiarkan ia berkeluh
kesah dipelukanku.
“Ardi.. “
“Kirana”
entah mengapa, setan apa yang meracuni akal sehatku, kini aku dan kirana saling beradu birahi. saling beradu bibir, tanganku mulai menggerayang tubuh indah kirana ku. kirana pun menikmati nya. oh mengapa ini terjadi? oh kirana, tubuh mu sungguh menggoda.
entah mengapa, setan apa yang meracuni akal sehatku, kini aku dan kirana saling beradu birahi. saling beradu bibir, tanganku mulai menggerayang tubuh indah kirana ku. kirana pun menikmati nya. oh mengapa ini terjadi? oh kirana, tubuh mu sungguh menggoda.
********************





