Sunday, 16 October 2016

H.O.P.E






HOPE..
By   : Adian Dee










Keinginan ku untuk hal itu tidak lah ada. Tak akan ada. Sampai kapanpun tak akan ada. Hingga usiaku bertambah makin tua, semakin tua, dan semakin tua, hingga mati pun, harapan tidak ada. Never. I just trust it. There’s nothing dream, hope for the future. Tidak ada….


#1       : Impossible
Pagi ini hanya pagi biasa. Nothing special. Kemacetan dijalan raya sudah mulai terlihat, banyak pengguna jalan yang rusuh akibat kemacetan itu sendiri. Mungkin karena ini hari senin. Banyak pembantu kantoran, anak sekolah masih polos yang tidak tau tentang negara, pelayan pemerintah, hingga penguasa jalan raya ada disana. Aku hanya menyaksikan kericuhan dari atas pencakar langit, dan menikmati kebisingan suara kendaraan saja. Ya, aku hanya kumpulan daging yang tidak mempunyai apa – apa. Hanya gedung tua bekas kebakaran beberapa tahun yang lalu, yang masih kokoh sehingga tempat inilah aku jadikan tempat tinggal permanen ku. Walaupun aku sering dikejar – kejar pelayan pemerintah karena identitas ku entah kemana pergi nya. Ya, it’s me. Dengan segala keblangsakan ku. Setidaknya hari ini adalah makanan tersajikan dengan sangat buruk, namun aku bisa menikmatinya.
Pagi? Iya pagi. Kenapa aku tidak pergi dari sini. Mencari nasi dan secangkir kopi untuk aku nikmati. Sembari bersantai ria dari ketinggian sekitar 45 meter, memandang pemerintah yang sebentar lagi bobrok akibat inflansi dari Negara lain. Tetap merdeka hanyalah kata usang tak pernah terwujud. Sebentar lagi papua hanyalah kubangan penderitaan dan sebentar lagi neraka menyambut papua.
Lagian apa hak ku memikirkan Negara ini? Abaikan saja. Setidaknya arya datang membawakan ku roti isi dan kopi hitam sesuai dengan pesanan ku setiap hari. Ya, setidak nya aku masih punya sahabat yang tidak se anjing para koruptor, yang sedang berleha leha.
“Hey Ardi, sang politikus miskin karena terlalu ikut campur urusan Negara. Kubawakan pesanan mu sesuai permintaan”
“Hey Arya, sang konglomerat penguasa papa tajir. Terima kasih atas bantuan mu. Kau boleh pergi dari sini. Tugas mu sudah selesai”
“What the hell? Udah berapa lama kita sahabatan? Berani nya elo ngusir gue dari gubuk elo.”
“Eits, jangan menghina pemberian tuhan. Inilah istana gue. Istana kebebasan yang gue idamkan selama ini.”
“Maksudnya elo terpaksa tinggal disini karena bokap lo.”, sialan. Arya buat aku membuka tawa pagi ini. Dialah sahabat yang tidak akan sebangsat para pengkhianat disana.
“Hari ini elo mau kekantor?” Tanya arya.
“Tidak, tidak ada berita hari ini yang menarik. Karena aku hanya ingin berita yang berbobot, agar bayaran ku tinggi.”
“Kenapa elo gak pindah aliran aja. Jadi wartawan entertainment kek, atau sport, atau travelling. Kan banyak uangnya. Elo bisa tenang deh gak diteror lagi sama body guard disana.”
“aku terlalu cinta sama dunia politik. Apalagi menjadi komentator dan menjadi judgement bagi para budak pemerintah. “
“Iya saking cinta nya, elo sendiri tidak sempat memikirkan diri elo sendiri. Tidak pernah memikirkan pernikahan. Inget ya, kita ini umur 28 tahun. Udah saatnya lo memiirkan masa depan.”
Enough. There’s nothing hope for me about it. And, sepertinya gue ada kabar menarik deh”
“Oh ya? Ok kita ke lokasi sekarang.”.
No, I just want to go by self. And you? Pergilah kekantor. Bisa bisa bos mu menahan gaji mu hari ini. Kasihan Nadia dan Ranti tidak bisa kau belikan baju dan sepatu untuk mereka.”, ya, aku hanya ingin sendirian ketika arya membahas masalah pernikahan. Aku sudah muak dengan kata kata itu. I just wanna be alone.
***********
Aku disini mengitari ibu kota yang menurut ku penuh dengan drama. Why? Karena setiap hari aku diliput dengat banyak keluhan atas kekasaran pemerintah dalam merangkul rakyat. Setiap hari dengan menenteng kamera jadul yang sudah usang, namun sangat berarti untuk ku. Karena inilah aku banyak dibenci oleh sebagian politisi di negara ku sendiri. Nama ku menjadi bahan pembicaraan dikalangan elite. Hebatkan aku? Sebuah prestasi yang akan memenuhi track record ku dalam sepanjang sejarah ku. Ok lupakan. Aku disini mencari sebuah kabar burung yang datang dari smartphone pemberian arya. Yang katanya korupsi datang dari kalangan pejabat rakyat. Aku tak tahu kebenarannya. Lantas aku akan diam saja? Tentu tidak. Aku terus selidiki hingga tuntas. Aku bukan aparat negara, namun berita ku sangat dibutuhkan dikalangan rakyat.
            Hari ini dengan terik matahari yang sangat panas. Ok kita bicara seputar es teh manis. Dengan abang es teh yang selalu udar ider menjajaki setiap ibu kota mengais rejeki dengan caranya sendiri. Duduk disebelah abang es teh sambil berbincang mengenai keluhannya.
“Pak sudah berapa lama disini?”
“Wah saya mah udah lama disini. Sekitar 15 tahun lah”
“Wah lama juga ya. Menurut bapak pemerintahan jaman sekarang sama jaman dulu bagaimana?”
“Wah beda mas. Kalau jaman dulu saya tuh bisa beli minyak goreng seharga Rp.1200,- per liter. Tapi sekarang mah ampun deh. Beli beras aja sama kayak harga rokok murahan sebungkus”.
“Iya juga sih. Tapi bukannya pemerintahan jaman sekarang lebih tegas ya dibandingkan pemerintahan dulu?”
“Iya tegas. Hanya saja untuk masalah pembersihan koruptor masih aja belum tuntas. Bagaimana indonesia mau maju kalau para penjahat saja masih saja dilindungi? Seharusnya presiden fokus sama pembersihan para koruptor dengan cara pro dengan program KPK”. Wah, ini menarik untuk aku jadikan artikel. Dan aku gak pernah menyangka, seorang abang yang jualan es teh keliling bisa berbicara yang berbobot seperti ini. Wah perlu saya jadikan artikel dan kalau dimuat di situs blog bisa jadi bernilai mahal.
            Dan selanjutnya kami berbincang mengenai politik di negara ini. Aku gak pernah menyangka. Dan seharusnya seperti ini masyarakat pintar dalam menilai pemerintahan. Jangan asal dikasih nasi uduk plus uang satu lembar berwarna biru dua atau merah satu lembar mau aja dan tunduk aja sama pemerintah yang bandel nya gak ketulungan. Keren punya partner yang dapat dijadikan kritikus seperti abang es teh ini.
            Tak terasa satu jam lamanya kami berbincang. Akhirnya aku melanjutkan perjalananku untuk melihat ibu kota dan mengkritik dengan versi ku. Seorang jurnalis sejati tak dapat dikalahkan apabila berita nya dimuat berbobot sehingga para politisi dan kalangan elite menjadi marah dan membenci. Itulah yang kusuka. Walaupun nyawa taruhannya? Kebenaran harus selalu diutamakan dan ditegakkan.
***********


#2 – Kirana ku, Kembalilah!
16.30 jam ibu kota
            Didalam kereta ini aku merasa banyak keluhan dari para rakyat yang tidak suka dengan kepemerintahan ini. Apalagi aku, aku adalah sebuah buronan negara (mungkin). Ya hidupku benar benar tidak diperuntukkan untuk bahagia dinegara ini. Sebaiknya aku lebih memilih pindah saja menjadi warganeraga asing. Hanya saja kecintaan ku pada negara ini sangatlah besar. Tiba tiba suara handphone ku berbunyi. Apakah ini sebuah panggilan kerja, atau salah satu dari pembunuh bayaran untuk meneror ku? Sudahlah. Kita lihat saja.
“Hey Ardi, datanglah ke markas. Ada rencana besar dan ini membutuhkan bantuanmu. Tenang saja. Segepok uang untuk uang muka ada untukmu. Datanglah kemari. Aku tunggu jam 9 malam nanti.
Kirana”
Kirana, oh kirana. Wanita idaman semenjak smu. Aku tak menyangka wanita idaman ku kini menjadi pelacur yang dijual bebas murahan. Mungkin alasan inilah mengapa aku tak dapat membuka hati untuk wanita lain. Pesona mu membuat aku tak berdaya lemah bagaikan arwah melayang. Kirana, oh kirana.


21.00 pm waktu ibukota
            Yang dimaksud markas adalah tempat hiburan malam dan kirana selalu melayani tamu nya disana. Mengapa aku tahu? Karena aku tahu. Karenanya aku hampir mati disini karena aku tak sudi melihat lelaki lain menyentuh tubuhnya. Dan ribuan bogem mentah mendarat hingga oleh oleh yang kubawa hidung dan tulang rusukku patah. Setibanya disini, kirana yang selalu menggodaku dengan paras wajahnya nan anggun kini ia harus tampil all out dengan dress yang setengah lingerie ini. Ia menyambutku dengan ciuman panas dan oh... sungguh aku terbuai olehnya.
“Kau datang juga ardi”, ia menarik jaket kumuh ku, menarikku dan mengantarku pada sosok yang sudah tak asing lagi bagi ku. Ya, dia adalah penguasa rakyat jelata di seluruh indonesia, Reinaldi alias Bopeng, dia adalah mafia besar bagi ku.  Perlu kalian tahu, dialah yang membeli tubuh indah kirana wanita yang aku cintai selama ini.
“Sudah lama juga kita tidak bertemu, wahai wartawan tengil”
“Hey kau maha segalanya. Ada urusan apa denganku?”
“Elo tau kan gue maju jadi calon pejabat negara?” lho urusannya dengan ku apa? Masa bodo bukan urusanku. Kembalikan kirana padaku!
So, what’s your problem?”
“Gue mau elo tulis dan rekayasa fakta dengan elo memfitnah mereka. Ini list nama yang pengen gue singkirkan!”. Dengan sombongnya ia melemparkan sebuah kertas usang berisikan nama – nama penting dan sangat penting di kalangan pejabat negara. Betapa sedih dan kaget, rupanya Wirawan Nugraha, Seorang Ketua Komisi di jajaran DPR termasuk salah satunya.
“Ini list namanya, dan gue mau elo tulis dan rekayasa fakta yang ada. Dan ini uang muka buat elo, dan sebagai hadiah terima kasih, elo bebas menikmati tubuh indah permaisuriku.”, betapa jijik nya aku melihat bopeng berkata bak penguasa. Aku tahu ia seorang mafia terbesar bahkan polisi pun tidak berani dengannya. Demi apapun aku tidak akan memfitnah orang yang benar. Walaupun aku benci dengan sistem kepemerintahan sekarang tidak seperti zaman soekarno dulu, namun aku bersumpah tidak akan menulis tentang kebohongan. Aku tahu, Wirawan Nugraha adalah seorang politisi yang mempunyai track record yang sangat luar biasa. Bahkan akupun mengaguminya. Atas nama tuhan beserta isinya, aku tidak akan menulis dan tidak akan mau. Aku bersumpah!.
“Tidak. Tidak akan pernah segores pun tangan ini mengotori kertas ku tentang kebohongan. Tidak akan.”
“Oh jadi elo mulai berani ngelawan gue? Kirana....”, dan wanita ku cinta pertama ku datang kepadanya dengan gaya erotis menggoda datang menghampiri si brengsek itu. Aku muak dengan nya. Dengan senyuman maut nya, ia membalas sahutan keparat itu.
“Hey kirana sayang wanita ku, tolong ....................................................” si brengsek itu membisikkan perintah untuk kirana. Oh tidak, akal busuk apalagi yang akan aku hadapi? Oh tuhan, lindungi aku. Kini kirana mendekatiku dan membawaku jauh tenggelam dalam rayuan setan. Oh tuhan kucinta kirana. Sungguh aku tak kuasa dibuatnya. Kini ia menarikku lebih dalam saat yang lain pada pergi entah kemana. Pintu ruangan dikunci rapat, entah siapa yang menguncinya. Oh kirana, hentikan semua akal busuk si brengsek itu.
********************
“Kirana, aku mohon hentikan!”
“Bagaimana, kamu menikmatinya? Sudah lama kita tidak bercinta lagi.”, what? Persetan macam apa? Bahkan aku tak kuasa menyentuh sedikitpun tubuh mu. Memandangmu saja aku tak kuasa? Fitnah macam apa yang kau perankan kirana? Tiba – tiba saja aku berpaling dan segera memakai baju ku yang berserakan akibat ulah kirana. Sejujurnya aku memang menikmati, namun aku tak sanggup lagi. Benar benar tak sanggup. Aku ingin kirana seutuhnya menjadi milikku, bukan menjadi pion para iblis yan sengaja mensetting tubuh kirana.
“Kenapa, kenapa kau hentikan setelah kau menikmatinya?” ucap kirana yang membuatku semakin kesal padanya.
“Kirana, pakai baju mu. Lalu kita pergi bersama. Kubawa kau pergi dari neraka ini.”
“Ayolah sayang”, kini ia memelukku erat. Bahkan kurasakan buah dada nya menempel kepunggungku. Dan aku, PLAKK!!! Maafkan aku kirana sayang, aku terpaksa menampar pipi lembut mu. Kini ia hanya tersungkur kesakitan, sementara aku mencoba memakaikan kembali baju yang ia gunakan. You know that, ia benar benar tanpa busana dan sehelai benang pun tak ada pada tubuhnya.
“Kenapa ardi, kenapa kau lakukan itu ke saya?”
“Maaf, aku tak bisa menyiksamu lebih jauh. Dan aku tak mau menyiksa bathin ku lebih jauh. Ku akui ciuman mu sangat lihai. Tubuh indah mu sungguh buat ku terpaku, dan servis mu sungguh memuaskan. Tapi maaf aku tak bisa ikut denganmu. Ku akui aku mencintaimu semenjak kau selalu memakai sweater biru muda berambut kepang dua. Aku mencintaimu semenjak kau selalu perhatian pada buku buku yang kau baca. Dan aku mencintaimu semenjak ibumu memperkenalkan ku padamu.”
“Kamu tahu kan mengapa aku tak dapat bersamamu selamanya?”, akupun menghiraukan ocehan nya sembari aku memakaikan baju padanya juga kubaluti syal dan sweater yang kugunakan saat ini. Aku tak peduli. Yang kupedulikan hanyalah kirana saat ini.
“Ikutlah denganku kirana. Kau aman bersamaku. Kubuat kau berada dalam lindunganku.”, dan dari kejauhan pun, bopeng memunculkan wajah yang menjijikan dihadapanku . PROK… PROK… PROK…. Kira kira seperti itulah ia bertepuk tangan.
“Wow sungguh kisah cinta yang sangat tragis. Kirana, kemarilah”, kutahankan ia kembali kepangkuannya.
“Tidak!”
“Berani ya sekarang elo sama gue, wahai wartawan rendahan. Gue ha…”
“Kubuatkan kesepakatan saja. Aku akan ikuti permainanmu, dan sebagai imbalannya kirana menjadi milikku. Aku tak butuh receh hasi rampokan mu hari ini. Cukup kembalikan saja kirana padaku. Bagaimana?”
“Sudah berani ya sekarang. Elo menikmati tubuh permaisuriku dan sekarang elo menginginkannya juga.”
“Sungguh harga yang sangat adil bagiku. Kau butuh nama dariku, dan aku butuh kirana darimu. Kita sama – sama mempunyai kepentingan. Jadi, lebih baik kau mengalah dan ikuti permainanku”.
Brilliant!. Oke gue ikutin permainan lo. Elo akan tahu siapa gue sebenarnya. Dan gue akan….”
“Tanpa kau sebut aku tahu siapa kau. Ayo kirana, mari pulang”. Akupun menarik kirana keluar dari lingkar setan. Ada yang aneh, tanpa kekerasan, mengapa lebih mudah dibandingkan yang dulu? Yang terpenting aku dan kirana selamanya. Aku mencintaimu, Kirana Leswara.
“Jangan senang dulu Ardi Kusmawardhani. Permainan kita baru saja dimulai. Gue buat elo mati perlahan tersiksa.”.
********************



#3       : Oh Kirana ku…

07.00 am, disebuah tempatku yang antah berantah....
            Betapa senangnya aku, melihat kirana pertama kali sedekat ini. Walau peluh bercucuran, air mata tak dapat tertahan, muka lusuh pun ia tunjukkan padaku. Walaupun aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Kubuat kesepakatan bodoh dengan persetan ini. Aku tak peduli. Hari ini seakan harapan yang lama mati bangkit kembali. Perjalanan dari neraka itu menuju surga duniawi ku memang sangat jauh. Dan akupun tak dapat membawa kirana dengan ferari mewah seperti para pejabat Negara punya. Hanya tubuh ini yang dapat menopang tubuh kirana nan indah. Kita tak bisa tidur hingga saat ini. Rasa canggung yang besar ini membuat kita terpaku pada hal yang sama. Malu, ia ku akui malu, memalukan.
“Ardi, maafkan aku. Aku…”
“Sudahlah lupakan saja. Anggap aja semalam aku sedang mimpi basah. Ku akui aku ingin bercinta dengan mu. Tapi aku tak mau menikmati hal indah itu karena tekanan dari siapapun. “
“Maafkan aku. Memang aku bodoh. Maafkan aku. Kini aku malu berdiri dihadapanmu yang maha suci”.
“Jangan samakan aku dengan tuhan. Tuhan maha segalanya. Aku? Aku hanyalah pendosa yang mencoba untuk bertahan hidup, selagi tuhan memberiku waktu untuk hidup”.
“Ar….”, entah kenapa aku menghampirinya dan memeluk kirana ku. Ku biarkan ia menangis dipelukanku. Kubiarkan segalanya mengalir apa adanya. Kubiarkan ia berkeluh kesah dipelukanku.
“Ardi.. “
“Kirana”
entah mengapa, setan apa yang meracuni akal sehatku, kini aku dan kirana saling beradu birahi. saling beradu bibir, tanganku mulai menggerayang tubuh indah kirana ku. kirana pun menikmati nya. oh mengapa ini terjadi? oh kirana, tubuh mu sungguh menggoda.
********************









0 comments:

Post a Comment