Wednesday, 14 June 2017

Seandainya Aku (Example for scenario)

Scene 1
Tempat        : Ruang kelas
Situasi         : Novia dan teman-teman sedang belajar, sang dosen sedang menerangkan materi, sedangkan Novi dalam bayang-bayang ketakutan
Novia           : (Tertunduk menatap kearah buku, tanpa berkata apa- apa)
Teman Novia : Nov kenapa diam aja? Biasanya serius merhatiin dosen.
Novia              : Gak apa-apa kok. Cuma lagi gak enak badan aja. (Kembali tertunduk menatap kearah buku, tanpa berkata apa-apa)



Scene 2
Tempat        : Ruang Kelas
Situasi         : Jam pelajaran sudah selesai. Mahasiswa keluar kelas, dan Novia keluar kelas belakangan. Namun Novia tertahan karena dosen memanggil dan mengajak ngobrol Novia.

Dosen Dewi  : Novia,
Novia           : Iya Bu
Dosen Dewi  : Bisa bicara sebentar?
Novia           : (Langsung duduk berhadapan dengan dosen Dewi)
Dosen Dewi  : Selama pelajaran ibu perhatikan kamu diam saja. Gak seperti biasanya. Kamu itu kenapa?
Novia           : Gak kenapa-napa Bu. Saya lagi gak enak badan (Sambil tertunduk malu). .
Dosen Dewi : Jangan gitu, ibu tahu kok kamu punya masalah. Kamu bisa cerita sama ibu. Insya Allah kalau ibu bisa bantu, ibu bantu kamu.
Novia           : Beneran ibu, saya gak kenapa-napa. Cuma lagi gak enak badan (Masih tertunduk malu).
Dosen Dewi  : Sebelumnya ibu minta maaf ya. coba Novi lihat mata saya.
Novia           : (Masih tertunduk malu)
Dosen dewi   : Kamu cerita saja permasalahan kamu. Anggap aja saya ini ibu kamu. Segala permasalahan bisa diselesaikan kok. Walaupun butuh waktu untuk mengatasi masalah itu. Tapi kamu coba ceritakan apa permasalahan kamu. Setidaknya beban kamu menjadi ringan.
Novia           : Novia malu Bu.
Dosen dewi   : Malu kenapa Nov?
Novia           : Novia belum isi KRS, Novia belum bayaran bu. Novia malu sama teman-teman.
Dosen dewi   : Kalau boleh tahu, orang tua Novia kerja apa?
Novia           : Gak kerja Bu.
Dosen dewi   : Terus, selama ini Novia kuliah dibayarin sama siapa?
Novia           : Waktu semester kemarin hasil tabungan Novi waktu kerja kemarin. Cuma sekarang Novia gak bekerja.
Dosen dewi   : Sudah minta bantuan sama saudara Novia?
Novia           : Sudah bu. Tapi saudara Novia lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada mementingkan saudaranya sendiri. Sebenarnya Novi malu berbicara ini sama ibu (sambil menangis).
Dosen dewi   : Ibu mengerti kok kondisi kamu saat ini. Ibu juga mengerti sekali. Kamu yang sabar ya. Ini ujian buat kamu. Ibu yakin kamu bisa kok menghadapi ini semua. Ibu percaya sama kamu. Kamu itu pintar.
Novia           : Tetap aja saya takut bu setiap kali Novia masuk kelas, ikuti pelajaran, dan setiap dosen mengabsen nama. Saya benar-benar takut bu.
Dosen dewi   : Jangan takut Nov. kamu di sini, kamu di kelas, dan kamu menyimak itu menjadi ilmu buat kamu. Kuliah itu bukan hanya sekedar meraih gelar sarjana, dan bukan hanya sekedar membeli nama dan kursi saja. Kuliah itu tempat mencari ilmu untuk di implementasikan.
Novia           : Iya Bu (Menunduk sambil menangis)
Dosen dewi   : Sekarang gini aja, coba kamu bicara sama kaprodi, konsultasi, dan ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Semoga ada jalan untuk kamu.
Novia           : Iya ibu. Sebelumnya terima kasih sudah mau mendengarkan cerita Novia.



Scene 3
Tempat        : Ruang Kaprodi
Situasi         :Novia sedang berkonsultasi dengan kaprodi, dan mendengar jawaban dari kaprodi semangat Novia langsung hilang.

Kaprodi        : Iya ada yang bisa saya bantu?
Novia           : Begini Bu, saya ingin Tanya, kalau saya isi KRS telat gimana Bu? Sejujurnya saya belum bayar kuliah. Belum ada dana untuk membayar biaya kuliah Bu.
Kaprodi        : Memang orang tua kamu tidak bekerja?
Novia           : Iya Bu. Saya dari keluarga yang tidak mampu.
Kaprodi        : Sebelumnya saya minta maaf untuk urusan ini saya gak bisa membantu. Tapi kamu coba aja konsultasi sama bagian Biro Akademik atau bagian keuangan. Karena yang punya wewenang itu beliau. Saya hanya memberi saran saja.
Novia           : Oh gitu ya Bu. (Sambil menunduk)
Kaprodi        : Sekali lagi saya minta maaf Novia, saya benar-benar tidak bisa bantu kamu.



Scene 4
Tempat        : Ruang Biro Akademik
Situasi         :Novia sedang berkonsultasi dengan Biro Akademik, dan mendengar jawaban dari beliau semangat Novia kembali hilang.

Biro Akademik       : Iya ada yang bisa saya bantu?
Novia                     : Begini Pak, saya ingin Tanya, kalau saya isi KRS telat gimana Pak? Sejujurnya saya belum bayar kuliah. Belum ada dana untuk membayar biaya kuliah Pak.
Biro Akademik       : Memang orang tua kamu tidak bekerja?
Novia                     : (Dubbing: Kenapa harus ada pertanyaan ini lagi sih?) Iya Pak. Saya dari keluarga yang tidak mampu.
Biro Akademik       : Sebelumnya saya minta maaf untuk urusan ini saya gak bisa membantu. Karena saya sudah rapat dengan bagian keuangan dan seluruh staf Akademik mengenai masalah ini. Tapi untuk masalah itu, coba saja kamu konsultasi bagian kepala keuangan nya. Semoga saja bisa membantu kamu. Karena yang punya wewenang itu beliau.
Novia                    : Oh gitu ya Pak. (Sambil menunduk)
Biro Akademik       : Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak bisa bantu kamu.



Scene 5
Tempat        : Di tempat duduk depan Kelas
Situasi         : Novia berjalan perlahan, lalu duduk tertunduk dan menangis. Kecewa dengan hasil usaha nya.

Novia           : (Dubbing) kenapa harus seperti ini. Aku benci semua ini. Benci.



Scene 6
Tempat        : Ruang Kelas
Situasi         : Novia dan teman-teman sedang belajar, sang dosen sedang menerangkan materi, sedangkan Novi dalam bayang-bayang ketakutan
Novia : (Terduduk takut seperti biasanya)
Dosen : (Masih menerangkan materi, tak lama kemudian mengabsen nama mahasiswa) baik, saya akan absen satu persatu. (Sebut nama mahasiswa)
Dosen : Ada yang belum saya sebutkan?
Teman Novia 1 : Novia belum Bu.
Dosen : Tapi di database saya gak ada nama Novia.
Jefri   : Belum bayaran Bu Novia mah.
Novia : (Kesal dengan ucapan Jefri, lalu pergi meninggalkan kelas)
Teman Novia 1: Elo Jef, harusnya gak ngomong gitu.
Jefri   : Lah, salah gue apa coba? Emang kenyataan nya gitu.
Teman Novia 1: Elo Jef, demi apapun gue gak suka cara elo.
Teman Novia 2: Seenggaknya elo jaga perasaan Novia. Coba kalau elo ada di posisi dia. Apa lo gak malu?
Jefri   : Lah, terus gue harus diem gitu? Kalau dosen nanya ta……
Dosen : Sudah sudah. Kita lanjutkan materinya.
Teman Novia 1: Sumpah Jef, elo bener bener gak punya hati.



Scene 7
Tempat : Tangga samping kampus
Situasi: Novia menangis tidak terima dengan perkataan Jefri.

Novia : Aku sadar, aku bukan anak orang kaya. Aku hanya anak dari keluarga miskin yang gak sanggup untuk membiayai pendidikan ku. Aku Cuma seorang anak miskin yang mempunyai mimpi untuk kuliah. Kenapa harus seperti ini? Seandainya saja aku anak orang kaya, gak mungkin aku gak merasakan hal sepahit ini. Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau beri padaku? (Tanpa berpikir lama, Novia langsung menuju loteng atas)



Scene 8
Tempat        : Ruang Kaprodi
Situasi         :Dosen Dewi sedang membicarakan tentang Novia bersama Kaprodi

Dosen Dewi  : Permisi,
Kaprodi        : Oh iya Bu Dewi. Silahkan masuk.
Dosen Dewi  : (Sambil masuk dan duduk di ruangan Kaprodi)
Kaprodi        : Iya Bu, ada apa ya.
Dosen Dewi: Begini Bu, saya disini mau membahas tentang Novia.
Kaprodi        : Oh iya, kemarin Novia sudah menghadap Bu ke saya.
Dosen Dewi  : Terus bagaimana Bu kelanjutannya?
Kaprodi        : Sejujurnya saya ingin bantu Novia. Tapi ini sudah kebijakan dari Kabiro Akademik. Jadi saya benar-benar gak bisa ambil keputusan.
Dosen Dewi  : Iya saya mengerti Bu. Namun sangat disayangkan potensi belajar yang dimiliki Novia sangat bagus. Dan saya dengar juga, Novia atlet bela diri nasional. Sudah mengharumkan nama kampus juga.
Kaprodi        : Iya benar Bu. Saya juga sangat menyayangkan hal itu. Saya juga bingung harus bagaimana.
Dosen Dewi  : apa sebaiknya kita bicara langsung sama pejabat kampus? Semoga aja ada toleransi untuk Novia. Saya khawatir, Novia malah makin stres dan dia pasti minder sama teman-teman kelasnya.
Kaprodi        : Saya sudah suruh Novia menghadap beliau. Tapi saya belum dapat kabar apa-apa dari Novia. Saya juga khawatir.
Dosen Dewi  : Sebaiknya kita tanya saja langsung sama Novia. Tapi tetap kita juga harus menghadap ke Pak Kabiro Akademik. Semoga saja dengan kita yang berbicara, ada toleransi dari pihak kampus.
Kaprodi        : (Tarik Nafas) Baik Bu. Kita jadwalkan saja segera dengan beliau.






















Scene 9
Tempat        : Ruang Rapat
Situasi         :Kaprodi bersama Dosen Dewi menghadap dan berbicara mengenai Novia bersama petinggi Kampus.
Kaprodi                 : Jadi begini, ada mahasiswi saya yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Namanya Novia dan.. (Dipotong pembicaraan oleh Kabiro Akademik)
Kabiro Akademik   : Oh iya kemarin Novia sudah menghadap saya. Sebenarnya saya tidak tahu permasalahannya apa. Namun saya juga tetap tidak bisa bantu. Karena sudah kebijakan dari kampus seperti itu.
Dosen Dewi            : Maaf sebelumnya, menurut saya Novia mempunyai potensi belajar yang sangat tinggi. Dia cerdas, dan berprestasi. Bahkan dia juga pernah mengikuti lomba atas nama kampus.
Kabiro Akademik   : Namun tetap saja Bu bukan wewenang saya. Saya juga bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Karena yang punya wewenang itu Kabiro keuangan.
Kaprodi                 :  Tapi Pak, seharusnya kita beri dia satu kesempatan untuk bisa belajar disini, dan diakui juga. Karena percuma banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu untuk kuliah namun ia hanya mengandalkan biaya kuliah saja, tapi tanggung jawab sebagai mahasiswa tidak dilaksanakan. Banyak lho pak yang seperti itu. Apa bapak tidak mau menerima resiko seperti itu?
Kabiro Akademik   : Iya ibu saya mengerti. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.......... (kepotong pembicaraan karena kabiro keuangan masuk kedalam ruang rapat).
Kabiro Keuangan    : (Masuk dan langsung duduk di tempat rapat). Jadi bagaimana awalnya? Saya dapat sms dari pak kabiro, jadi saya langsung kesini.
Kaprodi                 : (Mengulang cerita dari awal).  Jadi begini, ada mahasiswi saya yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Namanya Novia dan saya pikir kita harus menolong Novia.
Kabiro Keuangan    : memangnya kenapa dengan Novia?
Dosen Dewi            : Dia merupakan salah satu mahasiswi kampus ini yang tidak mampu untuk membiayai perkuliahan semester ini. Karena Novia berasal dari keluarga tidak mampu. Namun Novia mempunyai potensi tinggi dalam belajar. Dia juga cerdas. Selain itu, ia juga sering dapat juara dalam perlombaan membawa nama kampus. Menurut saya, Novia mempunyai potensi tinggi.
Kabiro Keuangan    : Saya mengerti. Namun sebelumnya ibu sudah tahu peraturannya seperti apa. Mungkin Pak Kabiro sudah memberitahukan sebelumnya.
Kaprodi                 : Saya mengerti. Tapi saya mohon tolong bapak pertimbangkan kembali. Banyak mahasiswa yang sebenarnya ia cerdas dalam akademis atau ia berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademis tapi selalu terbentur dalam masalah keuangan, sementara banyak mahasiswa yang sebenarnya ia tidak ada masalah dalam ekonomi namun ia melepaskan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Apakah ini adil untuk orang orang yang mempunyai potensi tinggi seperti Novia?
Kabiro Keuangan dan Kabiro Akademik         : (Memasang wajah berpikir dan berdiskusi)
Dosen Dewi  : Sebelumnya kami meminta maaf sama bapak atas permintaan kami. Tapi saya harap bapak bisa memberi kebijaksanaan nya. Karena sangat disayangkan mahasiswa yang berpotensi dibiarkan gitu saja. 
Kabiro Keuangan    : Sebelumnya saya minta maaf. Sesuai dengan prosedur, saya dan Kabiro Akademik tidak bisa membantu Novia. Sekali lagi saya mohon maaf.
Kaprodi dan Dosen Dewi  : (Memasang wajah kecewa)
Scene 10
Tempat        : Kantin Kampus, atau lobby kampus, atau suatu tempat yang rame dan view nya mendukung
Situasi         : Teman-teman Novia sedang memungut sumbangan untuk Novia. Tiba-tiba Dosen Dewi dan Kaprodi berjalan di depan teman-teman Novia dan melihat kotak amal itu untuk Novia.

Teman-Teman Novia : Ayo kaka mohon sumbangan nya untuk teman kami. Sumbangan nya..
Dosen Dewi            : lho, kalian kenapa di sini? (sambil melihat kotak amal)
Kaprodi                 : Iya kalian ngapain di sini? Bukannya tidak boleh ya meminta sumbangan di sini?
Teman-Teman Novia : Kami ingin membantu Novia. Karena kami peduli dengan Novia. (sambil melanjutkan meminta sumbangan, lalu Dosen Dewi dan Kaprodi pergi meninggalkan teman Novia).



Scene 11
Tempat        : Ruang Kaprodi
Situasi         : Dosen Dewi dan Kaprodi sedang berdiskusi mengenai kejadian tadi.

Kaprodi        : Apakah kita harus membantu Novia?
Dosen Dewi  : Saya berniat untuk membantu Novia untuk masalah finansial. Saya mengerti masalah Novia, karena saya juga pernah mengalami hal serupa.
Kaprodi        : Sejujurnya saya bingung dan kecewa. Kecewa karena pejabat kampus tidak memberi kelonggaran untuk Novia. Dan saya bingung saya harus mengambil tindakan seperti apa? Karena saya sendiri juga benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan?
Dosen dewi   : Sebaiknya kita bantu saja Novia dalam hal finansial. Saya jamin dengan begini semangat Novia bisa kembali seperti semula. Dan saya yakin karena Novia adalah mahasiswi saya yang cerdas.
Kaprodi        : (Masih berpikir) apa sebaiknya saya mendaftarkan dia untuk mengikuti beasiswa kampus? Tapi itu belum dibuka pendaftaranya.
Dosen Dewi  : (Menghela nafas),  kita bantu Novia semaksimal kita.



Scene 12
Tempat        : Loteng Kampus
Situasi         : Novia sedang berbaring menatap langit yang cerah dari atas loteng kampus. Merasakan putus asa dan menangis, merenung, juga sedang menyesal. Kemudian Novia berdiri lalu merasa tidak ada harapan lagi, ia mencoba untuk bunuh diri. Lalu datang teman Novia untuk menghentikan aksi bunuh diri, dan mencoba untuk menyemangati Novia.

Novia           : (Dubbing)”Kenapa harus seperti ini? Kenapa? Apa gak ada jalan lain? Kenapa harus aku yang merasakannya? Kenapa harus aku? Kenapa? Seandainya saja aku …. Tidak! Sudah cukup aku merasakan ini semua. Cukup. Mungkin aku akhiri semuanya di sini. Di sini..
Dari arah kejauhan datanglah teman teman Novia untuk mencegah aksi bunuh diri.
Teman Novia1        : Novia, please jangan loncat dari situ. Please
Teman Novia2        : Iya Nov. Jangan nekat kayak gini. Certain sama kita. Ada apa masalahnya?
Novia                     : Udah gak ada lagi yang bisa diharapkan. Jangan halangi aku.
Teman Novia1        : Please Nov. Kita sayang sama kamu.
Teman Novia2        : Iya Nov. Tolong jangan loncat ya.
Novia                     : Udah gak ada harapan lagi. (Berancang ancang untuk loncat kebawah).
Teman-Temen Novia       : NOVIA… (Berteriak, langsung menarik Novia dan mereka akhirnya jatuh.)



Scene 13
Tempat        : Tangga Kampus
Situasi         : Teman Novia mencoba untuk membujuk Novia dan memberi semangat kepada Novia.

Teman Novia 1       : Novia, kamu kenapa? Bisa curhat kok sama kita. Kamu cerita aja.
Teman Novia 2       : Iya Nov, cerita aja sama kita. Kenapa?
Teman Novia 1       : Ikh, kamu mah ikutin aja.
Teman Novia 2       : Ya maaf atuh. Mau bagaimana lagi (sambil ketawa kecil)
Novia                    : Aku udah bingung banget. Kayaknya udah gak ada harapan lagi. Aku kuliah tapi nama ku benar-benar tidak terdaftar. Maklum aku belum bayaran. Ditambah Jefri bener-bener bikin emosi. Selalu menghina aku.
Teman Novia 1       : Sebelumnya kamu udah nyoba konsultasi sama Kaprodi?
Novia                    : Belum sih. Tapi aku benar-benar takut.
Teman Novia 2       : Jangan takut untuk selalu maju. Kita di sini itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari gelar. Kalaupun emang kamu gak diakui? Setidaknya kamu bisa mencuri ilmu yang sudah kamu dapatkan. Tapi kalau dipikir-pikir, kamu kan banyak prestasi, kenapa kampus gak bisa bantu kamu ya?
Teman Novia 1       : (Sambil memukul ke teman Novia 2) shuuutt.. kamu. Jangan gitu!
Novia                    : Entahlah. Tapi ada benarnya juga. Hanya saja aku malu setiap belajar namaku tidak dipanggil. Setiap belajar selalu ditanya sudah absen apa belum? Setiap ditanya oleh dosen, aku Cuma bisa tunduk malu. Aku benar-benar bingung. Aku benar-benar membuat kecewa orang tua ku. Aku sadar siapa aku. Seandainya saja aku punya uang banyak. Mungkin aku bisa menyelesaikan studi ku dengan lancar.
Teman Novia 1       : Belum tentu. Mungkin kalau kamu punya banyak uang, kamu akan lupa dengan belajar. Kamu akan lupa dengan ibadah, kamu akan lupa dengan semua orang yang sudah saying sama kamu. Dan satu hal yang paling penting, kalau kamu punya banyak uang, bisa saja kamu melupakan Allah. Sebaiknya kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang. Kamu tuh pintar, cerdas, banyak prestasi pula. Kamu Terus raih mimpi mu, jangan menyerah. Dan selalu meminta kepada Allah. Insya Allah kamu selalu berada dalam lindungan Allah. Makanya kamu rajin ibadah, rajin curhat sama Allah.
Teman Novia 2       : Iya bener tuh rajin ibadah. Terus jangan lupa, kita selalu bantu kamu kok. Jangan menyerah ya.
Teman Novia 1       : Oh iya kita ada sedikit hadiah untuk kamu. (memberi amplop untuk Novia)
Novia                    : Apaan ini? (Sambil membuka isi amplop dan Novia kaget melihat uang yang ia dapati dari teman-temannya)
Teman Novia 2       : Ini hasil kerja keras kita untuk kamu. Kita peduli sama kamu. Kamu pake uang ini untuk biaya kuliah kamu. Walaupun gak seberapa. Setidaknya mengurangi biaya kuliah kamu.
Novia                    : Ta... Ta... Tapi? Kenapa kalian? (Masih kaget dan terharu)
Teman Novia 1       : Kita sayang sama kamu. Gunakanlah untuk biaya kuliah kamu ya.
Novia                    : (Menangis terharu sambil memeluk sahabat nya). Terima kasih, terima kasih, terima kasih semuanya. Terima kasih

Scene 14
Tempat        : Lobby Kampus
Situasi         :Novia menuju ruang keuangan, dan tidak sengaja menabrak Faisal.

Novia           : Eh, ka Faisal. Maaf-maaf. Gak sengaja.
Faisal           : Ada juga kaka yang minta maaf. Kamu mau kemana?
Novia           : Mau kesini ka. Kakak ada mata kuliah?
Faisal           : Iya kuliah. Tapi belum ada dosen nya. Kamu gak masuk?
Novia           : (Tidak menjawab, hanya tertunduk malu).
Faisal           : Kenapa?
Novia           : Oh gak apa-apa ka. Novia belum bayaran. Jadi Novia gak masuk. Kan gak boleh masuk kalau belum ada nama di absen.
Faisal           : Sama, kakak juga belum ada nama nya di absen. Oh iya, kemarin sore kakak liat kamu naek ke atas loteng. Kayaknya lagi sedih gitu. Ada apa?
Novia           : Gak apa-apa kok (Berbicara gugup)
Faisal           : Cerita aja sama kakak.
Novia           : Novia malu ka.
Faisal           : Karena belum bayaran?
Novia           : Iya kak.
Faisal           : Sama kakak juga pernah mengalami itu kok. Tapi semua itu bisa diatasi. Alhamdulillah.
Novia           : Hehehe.. Iya kak alhamdulillah (Memaksa untuk tersenyum).
Faisal           : Kakak juga sama dari keluarga yang tidak mampu. Tapi kakak percaya, di balik itu semua pasti ada jalan keluar. Asalkan kita selalu optimis. Percaya sama Allah, setiap masalah ada hikmahnya. Dan selalu ada jalan keluar bagi kita yang selalu optimis. Jadi semangat terus ya.
Novia           : Iya kak, makasih ya atas sarannya.
Faisal           : Sama–sama. Oya kakak masuk kelas dulu ya. Udah ada dosennya. (Berjalan sambil pergi)



Scene 15
Tempat        : Ruang Keuangan
Situasi         : Novia menanyakan pembayaran kuliah.

Novia           : Permisi Mba, mau nanya kalau atas nama Novia Andriana Nim 51113565 berapa lagi Mba?
Admin Keuangan    : Sebentar saya cek dulu (Sambil mengecek), sudah lunas mba.
Novia           : Hah, Lunas? Beneran Mba? (dubbing: siapa yang bayarin?)
Admin Keuangan    : Novia Andriana kan? Nim nya 51113565? Sudah lunas Mba.
Novia           : Oh makasih ya Mba. (Berjalan meninggalkan Mba admin keuangan. Sambil berpikir juga)




Dosen Dewi  : (Sambil mengabsen mahasiswa), ....................,  Novia?
Novia           : (Masih Menunduk menatap buku)
Dosen Dewi  : Novia??
Novia           : Ah.. i.. iya hadir Bu (Kaget).
Dosen Dewi  : (Memberikan Senyuman Kepada Novia. Novia membalas senyuman Dosen Dewi).
2 Jam Kemudian
Dosen Dewi  : Baik materi hari ini cukup. Kita lanjutkan minggu depan.
Teman-Teman Novia       : (Siap-siap pulang dan ada yang langsung meninggalkan kelas).
Dosen Dewi  : Novia,
Novia           : Iya bu.
Dosen Dewi  : Bisa kita bicara sebentar?
Novia           : (Sambil duduk di hadapan dosen Dewi), Iya ada apa Bu?
Dosen Dewi  : Saya sudah bicara dengan petinggi kampus sama kaprodi. Jadi hasilnya kamu boleh mengikuti perkuliahan. Jadi nama kamu ada di absen saya, juga ada di absen dosen yang lain.
Novia           : (Memasang wajah Senang), Sungguh Bu? Ibu gak bohong kan?
Dosen Dewi  : Iya saya gak bohong. Makanya saya panggil nama kamu.
Novia           : Terima kasih Bu terima kasih. Terima kasih Bu (Bersalaman sambil menangis terharu)
Dosen Dewi  : Iya sama sama. Kamu harus terima kasih sama Allah. Semua ini berkat usaha kamu yang selalu optimis.
Novia           : Terima kasih Bu




-     The End -.





 
         




0 comments:

Post a Comment