Tuesday, 26 April 2016

Lagu Cinta (Ai No Uta) By : Adian Dee


Dear Aki,
Aku tahu penyakit ini takkan lama lagi merenggut nyawa ku. Namun sebelum itu penyakit ini merenggut semua ingatan ku bahkan tubuhku. Aku menjadi seperti bayi yang idiot dan yang pasti merepotkan seluruh orang orang disekitarku. I know it will happened.
Sebelumnya aku minta maaf pertemuan ku dengan kau menjadi sangat singkat karena penyakit ini mengharuskan aku untuk melupakan mu dan membuat seluruh orang menangis akan kepergian ku. Yang pasti di surga sana, aku pasti selalu mengingat mu. Mengingat semua kenangan kita, dan yang pasti aku selalu ingat perkataan mu sebelum aku meninggal dunia.
Lagu yang aku ciptakan sebenarnya itu tentang pengalaman ku. Pengalaman yang sangat pahit yang harus ku tanggung seumur hidup ku. Penderitaan akan cinta yang sangat menyakitkan. Harusnya lagu itu tidak aku putarkan untukmu. Karena ini akan menjadi sebuah kesakitan yang amat besar untuk mu.
Maafkan aku karena disisa umurku aku tidak bisa melawan penyakit ku. Malah aku menyerah dengan semua ini. Aku harus menyerah, mungkin ini yang terbaik untuk ku. Dan untuk semua yang setia disampingku. Aku mengucapkan terima kasih banyak untuk kamu yang selalu merawat ku dan memperjuangkan ku dari pertama kita bertemu hingga akhirnya tuhan berkehendak lain. I just wanna say thanks and forgive me.
Aki, ada satu hal yang ingin aku utarakan kepadamu. Sejak awal kita bertemu, aku langsung jatuh hati sama kamu. Entah mengapa kamu berbeda dari semua lelaki yang ku temui. Kau sabar menghadapiku yang lemah ini. Aku jatuh cinta sama kamu, dokter aki. Bagaimana perasaan mu? Apa kamu merasakan hal yang sama? Namun ini sudah terlambat untuk aku utarakan. Biarkan cinta ini aku simpan dan ku tulis dalam sepucuk surat ini.
Terima kasih atas kasih sayang mu yang selalu membuatku kuat hingga mencapai batasnya. Aku selalu cinta dan sayang sama kamu. Yang pasti kau jaga kesehatan dan jangan pernah ragu untuk melakukan hal yang besar. Kau adalah seorang dokter yang hebat. Aku salut sama kamu. And the last word, tolong jaga janji mu sebagai dokter. Aku pamit pulang dulu ya. Kuharap kita bisa bertemu lagi diruang dan waktu yang sama.

Your love, Ariana
*******
Day 3-2, 2014

Damai nya jiwa ini
bersamaan dengan semilir angin pembawa kesejukan hati.
Dalam hati ku bisikan lirih
Ku ingin selalu berasa disini
Menikmati indahnya dunia, takkan sama
Saat ku berada dalam hitam pekat
Selamanya, aku takkan seperti dulu kala
Bebas menikmati apapun yang tuhan berikan.
Saat ku tertunduk
Berharap seseorang mengangkat ku
Menunjukkan betapa hebatnya aku
Berharap pula seseorang membawa ku
Berjalan diatas taman yang anggun
Mungkin lirik lagu kusudahi sampai disini. Karena sekarang waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi hari. Saat nya suster lidya dan dokter hendra mengecek kondisi ku. Tangan kiri dengan infusan (sebenarnya sudah puluhan botol infus yang setia menempel pada tangan ku), dan saatnya pula suster nabila pulang.
“selamat pagi ariana. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya suster lidya
“seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali.”
“biasanya kamu menulis.”
“sudah selesai kok. Sekarang aku siap jalani berbagai macam perawatan.”, tubuhku di otak atik oleh suster lidya, entah apa yang ia lakukan kepadaku, yang pasti perawatan medis menunjang proses penyembuhan ku. Tapi aku tak melihat dokter hendra disini. Apa dia datang terlambat? Entahlah. Aku tak ingin tahu juga.
“oh iya aku lupa ya, hari ini dokter hendra tidak bisa datang, dan gak bisa periksa kamu lagi untuk beberapa bulan ke depan.”
“kenapa suster?”
“karena beliau pindah tugas ke semarang. Sebagai gantinya, ada dokter yang menangani kamu dan ini spesial lho,” seperti biasa, dengan gaya bicara nya yang khas, membuat ku penasaran. Padahal aku sudah nyaman dengan dokter hendra. Tak lama kemudian, sosok berjubah putih layaknya seorang dokter, dengan paras yang tampan dan juga perawakan yang tinggi. Sepertinya ia bukan warga negara indonesia.
“Ohayou Gozaimatsu, my name is Akiyama Moritaka. You may call me aki. Nice to meet you, eto.... Ariana”, perkenalan dengan menggunakan bahasa inggris dengan aksen jepang yang khas, membuatku ingin tertawa. Karena aku sendiri tidak paham dengan bahasa asing. Mungkin dulu iya aku mengerti sedikit bahasa jepang dan inggris. Namun tidak untuk kondisi ku sekarang.


“Ok, sir Aki. Saya permisi dulu”, suster lidya meninggalkan ku. Saatnya aku dan dokter aki disini. Dokter aki serius dengan pengecekkan kondisi ku pagi ini. Entah ia bisa mengerti bahasa indonesia atau tidak. Entahlah.
“Ano, Ariana.. Could I ask one thing?”, dia mulai bertanya lagi pada ku. Entahlah aku bisa atau tidak membalas pertanyaan dia dengan bahasa asing ini.
“maaf, saya tidak bisa bahasa inggris”,
“oh iya saya lupa. Boleh saya bertanya?”, ternyata lucu juga. Bahasa indonesia yang diucapkan oleh orang jepang. Masih dengan aksen jepang yang khas, membuat ku tersenyum sendiri.
“silahkan dok!”,
“apakah hari ini kamu mengalami sakit kepala yang luar biasa?”,
“ya, seperti biasanya. Disertai mual yang berlebihan. Tapi saya merasakan hal yang beda dari penyakit saya dok,”
“Apa itu?”
“saya sudah tidak bisa berjalan, dan saya tidak bisa berpikir terlalu keras. Mungkin ini dampak dari penyakit ini”,
“kamu sudah menjalankan kemo terapi?”
“baru 5, tinggal 5 tahap lagi dok”, dan dokter aki sibuk mengecek kondisi aku. Aku pun tak mengerti apa yang ia kerjakan. Entahlah. Dari arah yang berbeda, datanglah seorang wanita yang sangat dekat dengan ku, riani. Ya dia sahabatku.
“Selamat pagi kesayangan..................”, ucapan nya terhenti karena melihat sosok yang baru yang membuat nya terkesima. Dokter aki membuat sahabat ku seperti melihat artis jepang. Ia pun berlarian menuju ku. Seperti sedang kesurupan, kesurupan sosok ganteng dihadapan nya.

 “Ariana, apa gue gak salah lihat? Ada artis jepang disini?”, ucapnya histeris, tapi tetap dengan nada bisik nya. Mungkin ia malu.
“iya, namanya dokter aki. Dokter yang biasa menangani ku sedang pindah tugas selama beberapa bulan”,
Dōnyū sa remashita. Watashi no namae riani. “, riani, kau sok memakai bahasa jepang. Aku tertawa dibuatnya. Dokter aki pun hanya tersenyum kecil membalas sapaan riani. Dan ia langsung melihat ku. Entah apa arti dari tatapan itu. Tapi aku tidak menanggapi nya.
“Baik kalau begitu, saya permisi dulu.”, dokter aki pun pergi meninggalkan kami. Riani tampak bersemangat hari ini. Ya hari ini adalah hari minggu dimana riani menemaniku disini seharian. She is my best friend that i had. Aku bangga punya kamu rin, hehe
********
“ariana, main gitar lagi dong. Kangen nih pengen denger suara lo”, bujuk riani. Memang selain menulis, hobi ku adalah bermain gitar. Walaupun tidak mahir memainkannya, tapi senang bisa memainkan gitar. Riani mengambil gitar yang ada di pojokan ruangan ku. Kupetik senar gitar, dan ku mulai memainkan nada asal asalan. Asal jangan gak enak didengernya. Secara spontan aku menyanyikan lagu dengan lirik yang spontan pula.
“............... Dapatkah aku meraih langit itu, ketika aku terjatuh dan tanah ini melekat erat sekali? Dapatkah aku memeluk bulan, ketika aku berbaring lama tak dapat bergerak raga ini? Dapatkah aku selalu ada disisi mu, ketika aku........ aku...........”, tak terasa air mata ini membasahi pipi ku. Ku hentikan permainan gitar ku. Riani yang sadar akan hal itu langsung meraih tubuh ku dan memeluk ku. Mungkin riani mengerti kondisi perasaan ku.
“Ar, i know you still love him. But don’t you be likethat. Jangan seperti ini. Kamu juga butuh seseorang yang bisa menjaga mu. Biarkan lelaki brengsek itu pergi bersama wanita lain. Tapi aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik”, riani selalu mengatakan itu. Agar aku tak selalu memikirkan ibra, dia mantan kekasih ku.
“riani, maukah kau mendengarkan cerita ku?”, akhirnya aku membuka suara ku, mencurahkan segalanya kepada riani.
“Dengan senang hati.”

Sementara itu, dokter aki....
“Dokter Lilyana, can you explain the disease suffered by ariana?, actually i really dont understand. This is the first time I deal directly with the disease.”
Alzheimer's disease actually attack at the age of 65 years upwards. But age ariana fairly young could be attacked by this disease .Simtoma Alzheimer's is characterized by changes degenerative on a number of neurotransmitter systems, including changes in the function of monoaminergic neural systems that release of glutamic acid, noradrenaline, serotonin and a series of systems that are controlled by neurotransmitters. Degenerative changes also occur in some areas of the brain such as the temporal lobe and parietal lobe, and parts of the frontal cortex and gyrus singulat, followed by a loss of nerve cells and synapses. may you have studied this disease before.”, Dokter lilyana menjelaskan tentang penyakit yang ku derita.
”Yes, i know. But why the condition of the body ariana actually decreasing? supposed to chemotherapy ariana conditions could be better than before. Why?”
“actually, i dont know what was happened with her. But im sure she hiding something that she tortured her own self.”
********


Day 2-1 at 00.00 am
Ya, hari kemarin menjadi hari yang bisa dibilang bercampur aduk. Hati dan pikiran ku sepertinya sudah tidak kuat menahan ini semua. Seharusnya aku tidak memikirkan hal ini, demi kondisi ku. Tapi mengapa bayang nya selalu ada dan muncul di pikiran ku? Tok tok.. tok tok.. dokter aki datang menemui ku. Ku kira dia sudah pulang. Tapi mengapa larut malam ini dia datang kesini? Seharusnya dia tidak kesini.
“mengapa dokter kesini?”
”please call me aki. Jangan panggil saya dokter.”
“maaf, kenapa kamu kesini?”
“entahlah. Saya ingin kesini saja. Boleh kan?”
“dengan senang hati. Ada yang bisa saya bantu?”
“bagaimana hari mu kemarin?”
“seperti biasa. Tidak ada yang spesial.”, aki melihat disekitarku. Pandangannya terhenti kearah gitar ku. Mungkin ia akan bertanya kenapa gitar ku bisa ada disini.
“oh gitar itu, aku yang meminta. Dan dokter hendra mengijinkan aku bermain dan membawa gitar disini. Ada yang salah?”, penjelasan ku.
“sepertinya kau cinta dengan gitar kamu. Boleh aku mencoba memainkannya?”
“bukan nya tidak boleh ya berisik tengah malam?”
“tenang saja, aku akan bermain pelan kok.”, aki pun memainkan pertunjukkan akustik nya. Rasanya ada yang beda dengan malam ini. Mengapa aku? Ada apa dengan aku? Aku yang masih baru dengan dia tiba tiba muncul perasaan ini? Entahlah. Aku salut dengan permainkan gitarnya. Membuatku semakin kagum.
“how old are you now?”
“25 year old. Itu kamu bisa bahasa asing?”
“entahlah. Kata kata itu muncul begitu saja”, kami pun banyak cerita mengenai pribadi kita masing masing. Aki dengan sejumlah pengalaman yang hebat. Sebelumnya dia adalah dokter spesialis kanker dan baru lima tahun dibidang tersebut. Dan sekarang ia ditugaskan ke indonesia untuk menangani kasus penyakit kanker otak, yang sebelumnya ia lebih sering menangani kasus kanker selain kanker otak. Dan ini adalah pertama kali nya ia menangani al zheimer. Dari pengalaman yang bahagia hingga pengalaman yang begitu pahit ia ceritakan padaku. Menurutku dia adalah sosok pahlawan yang benar benar dibungkus dengan perawakan layaknya artis jepang terkenal. Aku salut pada nya.
“bagaimana dengan pengalaman mu?”, seketika aku terdiam. Aku tak bisa menjelaskan nya pada aki. I can’t...
“maaf jika saya lancang sebelumnya. Namun percayalah. Saya ingin tahu pengalaman mu saja. Dan saya janji akan merahasiakan hal ini pada siapapun.”, lalu ku ceritakan seluruh pengalaman hidup ku. Sejujurnya aku tak biasa bercerita kepada seorang laki laki, apalagi laki laki yang baru ku kenal tadi pagi. Entah kenapa ini bisa terjadi, tapi aku tetap ingin berbagi pengalaman ini dengan dia.
sokka, naruhodo. Sama dong. Saya juga pernah mengalami hal itu. gagal dalam hubungan percintaan karena orang tua mantan saya tidak setuju dengan saya. Alasan nya ini itu lah. Namun bisa dipastikan semua itu bohong. Karena tak lama kemudian ia melangsungkan pernikahan dengan lelaki lain. Kita sama, hanya beda waktu dan negara saja.”, tangisan ku makin menjadi jadi akibat cerita ku sebelumnya. Tiba tiba aki memeluk ku. Dia mempersilahkan aku untuk menangis. Tangisan itu semakin keras dan semakin menjadi jadi. Aku tak peduli dengan pasien lain. Aku tak peduli dengan sekitar ku. Yang pasti perasaan ku saat ini, aku hanya ingin tenang. Tenang dan tenang.
********

to be continue.....

Sunday, 24 April 2016

Agreement..... By: Dian Irmayanti



“Inget ya ini semua salah kamu!”, ucapku pada sosok berjubah hitam berparas tampan namun mempunyai hati bagai iblis. Ya dia adalah iblis.
what the hell? I just make opportunity and i just wanna help you. Saya tidak mau disalahkan!”. Ini yang membuatku kesal. Terperangkap pada perjanjian bodoh dengan iblis.
why? Why are you doing here? Menjebak aku dalam permainan kamu?”
“Ingatkah kamu, bahwa sesungguhnya aku sang penentang tuhan, sang iblis telah membuat kesepakatan dengan tuhan untuk tidak mengikuti seluruh perintah Nya. Jangan bilang kau tidak tahu akan hal itu.” Yes, i dont know about that. But why?
“dan sekarang kau ingin menebus kesalahan kamu dengan lompat dari sini? Hahahaha.. justru itu yang aku harapkan. Kau jatuh mati bak bangkai anjing yang berada disana. Dari sini aku hanya menyaksikan kebodohan yang kamu buat dan menantimu di neraka bersama ku. Ayo silahkan kau lompat dari sini!”, lanjutnya. Iya aku dan iblis itu sedang berada diatas loteng ketinggian 20 meter. Angin disini cukup kencang dan bisa saja angin itu mendorongku untuk jatuh ke dasar. Tapi apakah aku bisa menanggung dosa yang telah aku lakukan? Iblis terkutuk! Aku akan segera membunuh mu kelak. Soon, i will kill you and together will die in the hell.