Dear Aki,
Aku tahu penyakit ini takkan lama lagi merenggut nyawa ku.
Namun sebelum itu penyakit ini merenggut semua ingatan ku bahkan tubuhku. Aku
menjadi seperti bayi yang idiot dan yang pasti merepotkan seluruh orang orang
disekitarku. I know it will happened.
Sebelumnya aku minta maaf pertemuan ku dengan kau menjadi
sangat singkat karena penyakit ini mengharuskan aku untuk melupakan mu dan
membuat seluruh orang menangis akan kepergian ku. Yang pasti di surga sana, aku
pasti selalu mengingat mu. Mengingat semua kenangan kita, dan yang pasti aku
selalu ingat perkataan mu sebelum aku meninggal dunia.
Lagu yang aku ciptakan sebenarnya itu tentang pengalaman ku.
Pengalaman yang sangat pahit yang harus ku tanggung seumur hidup ku.
Penderitaan akan cinta yang sangat menyakitkan. Harusnya lagu itu tidak aku
putarkan untukmu. Karena ini akan menjadi sebuah kesakitan yang amat besar
untuk mu.
Maafkan aku karena disisa umurku aku tidak bisa melawan
penyakit ku. Malah aku menyerah dengan semua ini. Aku harus menyerah, mungkin
ini yang terbaik untuk ku. Dan untuk semua yang setia disampingku. Aku
mengucapkan terima kasih banyak untuk kamu yang selalu merawat ku dan
memperjuangkan ku dari pertama kita bertemu hingga akhirnya tuhan berkehendak
lain. I just wanna say thanks and forgive me.
Aki, ada satu hal yang ingin aku utarakan kepadamu. Sejak
awal kita bertemu, aku langsung jatuh hati sama kamu. Entah mengapa kamu
berbeda dari semua lelaki yang ku temui. Kau sabar menghadapiku yang lemah ini.
Aku jatuh cinta sama kamu, dokter aki. Bagaimana perasaan mu? Apa kamu
merasakan hal yang sama? Namun ini sudah terlambat untuk aku utarakan. Biarkan
cinta ini aku simpan dan ku tulis dalam sepucuk surat ini.
Terima kasih atas kasih sayang mu yang selalu membuatku kuat
hingga mencapai batasnya. Aku selalu cinta dan sayang sama kamu. Yang pasti kau
jaga kesehatan dan jangan pernah ragu untuk melakukan hal yang besar. Kau
adalah seorang dokter yang hebat. Aku salut sama kamu. And the last word,
tolong jaga janji mu sebagai dokter. Aku pamit pulang dulu ya. Kuharap kita
bisa bertemu lagi diruang dan waktu yang sama.
Your love, Ariana
*******
Day 3-2, 2014
Damai nya jiwa ini
bersamaan dengan semilir angin pembawa kesejukan hati.
Dalam hati ku bisikan lirih
Ku ingin selalu berasa disini
Menikmati indahnya dunia, takkan sama
Saat ku berada dalam hitam pekat
Selamanya, aku takkan seperti dulu kala
Bebas menikmati apapun yang tuhan berikan.
Saat ku tertunduk
Berharap seseorang mengangkat ku
Menunjukkan betapa hebatnya aku
Berharap pula seseorang membawa ku
Berjalan diatas taman yang anggun
Mungkin lirik lagu kusudahi
sampai disini. Karena sekarang waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi hari. Saat
nya suster lidya dan dokter hendra mengecek kondisi ku. Tangan kiri dengan
infusan (sebenarnya sudah puluhan botol infus yang setia menempel pada tangan
ku), dan saatnya pula suster nabila pulang.
“selamat pagi ariana. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya
suster lidya
“seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali.”
“biasanya kamu menulis.”
“sudah selesai kok. Sekarang aku siap jalani berbagai macam
perawatan.”, tubuhku di otak atik oleh
suster lidya, entah apa yang ia lakukan kepadaku, yang pasti perawatan medis
menunjang proses penyembuhan ku. Tapi aku tak melihat dokter hendra disini. Apa
dia datang terlambat? Entahlah. Aku tak ingin tahu juga.
“oh iya aku lupa ya, hari ini dokter hendra tidak bisa
datang, dan gak bisa periksa kamu lagi untuk beberapa bulan ke depan.”
“kenapa suster?”
“karena beliau pindah tugas ke semarang. Sebagai gantinya,
ada dokter yang menangani kamu dan ini spesial lho,” seperti biasa, dengan gaya bicara nya yang khas, membuat ku
penasaran. Padahal aku sudah nyaman dengan dokter hendra. Tak lama kemudian,
sosok berjubah putih layaknya seorang dokter, dengan paras yang tampan dan juga
perawakan yang tinggi. Sepertinya ia bukan warga negara indonesia.
“Ohayou Gozaimatsu, my name is Akiyama Moritaka. You may
call me aki. Nice to meet you, eto.... Ariana”, perkenalan dengan menggunakan bahasa inggris dengan aksen
jepang yang khas, membuatku ingin tertawa. Karena aku sendiri tidak paham
dengan bahasa asing. Mungkin dulu iya aku mengerti sedikit bahasa jepang dan
inggris. Namun tidak untuk kondisi ku sekarang.
“Ok, sir Aki. Saya permisi dulu”, suster lidya meninggalkan ku. Saatnya aku dan dokter aki
disini. Dokter aki serius dengan pengecekkan kondisi ku pagi ini. Entah ia bisa
mengerti bahasa indonesia atau tidak. Entahlah.
“Ano, Ariana.. Could
I ask one thing?”, dia mulai bertanya lagi pada ku.
Entahlah aku bisa atau tidak membalas pertanyaan dia dengan bahasa asing ini.
“maaf, saya tidak bisa bahasa
inggris”,
“oh iya saya lupa. Boleh saya
bertanya?”, ternyata lucu juga. Bahasa indonesia yang diucapkan oleh orang
jepang. Masih dengan aksen jepang yang khas, membuat ku tersenyum sendiri.
“silahkan dok!”,
“apakah hari ini kamu mengalami sakit
kepala yang luar biasa?”,
“ya, seperti biasanya. Disertai mual
yang berlebihan. Tapi saya merasakan hal yang beda dari penyakit saya dok,”
“Apa itu?”
“saya sudah tidak bisa berjalan, dan
saya tidak bisa berpikir terlalu keras. Mungkin ini dampak dari penyakit ini”,
“kamu sudah menjalankan kemo terapi?”
“baru 5, tinggal 5 tahap lagi dok”, dan dokter aki
sibuk mengecek kondisi aku. Aku pun tak mengerti apa yang ia kerjakan.
Entahlah. Dari arah yang berbeda, datanglah seorang wanita yang sangat dekat
dengan ku, riani. Ya dia sahabatku.
“Selamat pagi kesayangan..................”, ucapan nya
terhenti karena melihat sosok yang baru yang membuat nya terkesima. Dokter aki
membuat sahabat ku seperti melihat artis jepang. Ia pun berlarian menuju ku.
Seperti sedang kesurupan, kesurupan sosok ganteng dihadapan nya.
“Ariana, apa gue gak salah lihat? Ada
artis jepang disini?”,
ucapnya histeris, tapi tetap dengan nada bisik nya. Mungkin ia malu.
“iya, namanya dokter aki. Dokter yang
biasa menangani ku sedang pindah tugas selama beberapa bulan”,
“Dōnyū sa
remashita. Watashi no namae riani. “, riani, kau sok memakai bahasa jepang. Aku
tertawa dibuatnya. Dokter aki pun hanya tersenyum kecil membalas sapaan riani.
Dan ia langsung melihat ku. Entah apa arti dari tatapan itu. Tapi aku tidak
menanggapi nya.
“Baik kalau begitu,
saya permisi dulu.”, dokter aki pun pergi meninggalkan kami. Riani tampak bersemangat
hari ini. Ya hari ini adalah hari minggu dimana riani menemaniku disini
seharian. She is my best friend that i had. Aku bangga punya kamu rin, hehe
********
“ariana,
main gitar lagi dong. Kangen nih pengen denger suara lo”, bujuk
riani. Memang selain menulis, hobi ku adalah bermain gitar. Walaupun tidak
mahir memainkannya, tapi senang bisa memainkan gitar. Riani mengambil gitar
yang ada di pojokan ruangan ku. Kupetik senar gitar, dan ku mulai memainkan
nada asal asalan. Asal jangan gak enak didengernya. Secara spontan aku
menyanyikan lagu dengan lirik yang spontan pula.
“...............
Dapatkah aku meraih langit itu, ketika aku terjatuh dan tanah ini melekat erat
sekali? Dapatkah aku memeluk bulan, ketika aku berbaring lama tak dapat bergerak
raga ini? Dapatkah aku selalu ada disisi mu, ketika aku........
aku...........”, tak terasa air mata ini membasahi pipi ku. Ku hentikan permainan
gitar ku. Riani yang sadar akan hal itu langsung meraih tubuh ku dan memeluk
ku. Mungkin riani mengerti kondisi perasaan ku.
“Ar, i know
you still love him. But don’t you be likethat. Jangan seperti ini. Kamu juga
butuh seseorang yang bisa menjaga mu. Biarkan lelaki brengsek itu pergi bersama
wanita lain. Tapi aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik”, riani selalu
mengatakan itu. Agar aku tak selalu memikirkan ibra, dia mantan kekasih ku.
“riani,
maukah kau mendengarkan cerita ku?”, akhirnya aku membuka suara ku, mencurahkan
segalanya kepada riani.
“Dengan
senang hati.”
Sementara itu, dokter aki....
“Dokter
Lilyana, can you explain the disease suffered by ariana?,
actually i really dont understand. This is the first time I deal directly with
the disease.”
“Alzheimer's disease actually attack at the age of 65 years
upwards. But age ariana fairly young could be attacked by this disease .Simtoma
Alzheimer's is characterized by changes degenerative on a number of
neurotransmitter systems, including changes in the function of monoaminergic
neural systems that release of glutamic acid, noradrenaline, serotonin and a
series of systems that are controlled by neurotransmitters. Degenerative
changes also occur in some areas of the brain such as the temporal lobe and parietal
lobe, and parts of the frontal cortex and gyrus singulat, followed by a loss of
nerve cells and synapses. may you have studied this
disease before.”, Dokter
lilyana menjelaskan tentang penyakit yang ku derita.
”Yes, i
know. But why the
condition of the body ariana actually decreasing? supposed to chemotherapy
ariana conditions could be better than before. Why?”
“actually, i
dont know what was happened with her. But im sure she hiding something that she
tortured her own self.”
********
Day 2-1 at 00.00 am
Ya, hari kemarin menjadi hari yang bisa dibilang bercampur aduk.
Hati dan pikiran ku sepertinya sudah tidak kuat menahan ini semua. Seharusnya
aku tidak memikirkan hal ini, demi kondisi ku. Tapi mengapa bayang nya selalu
ada dan muncul di pikiran ku? Tok tok..
tok tok.. dokter aki datang menemui ku. Ku kira dia sudah pulang. Tapi
mengapa larut malam ini dia datang kesini? Seharusnya dia tidak kesini.
“mengapa
dokter kesini?”
”please call
me aki. Jangan panggil saya dokter.”
“maaf,
kenapa kamu kesini?”
“entahlah.
Saya ingin kesini saja. Boleh kan?”
“dengan
senang hati. Ada yang bisa saya bantu?”
“bagaimana
hari mu kemarin?”
“seperti
biasa. Tidak ada yang spesial.”, aki melihat disekitarku. Pandangannya
terhenti kearah gitar ku. Mungkin ia akan bertanya kenapa gitar ku bisa ada
disini.
“oh gitar
itu, aku yang meminta. Dan dokter hendra mengijinkan aku bermain dan membawa
gitar disini. Ada yang salah?”, penjelasan ku.
“sepertinya
kau cinta dengan gitar kamu. Boleh aku mencoba memainkannya?”
“bukan nya
tidak boleh ya berisik tengah malam?”
“tenang
saja, aku akan bermain pelan kok.”, aki pun memainkan pertunjukkan akustik nya.
Rasanya ada yang beda dengan malam ini. Mengapa aku? Ada apa dengan aku? Aku
yang masih baru dengan dia tiba tiba muncul perasaan ini? Entahlah. Aku salut
dengan permainkan gitarnya. Membuatku semakin kagum.
“how old are
you now?”
“25 year
old. Itu kamu bisa bahasa asing?”
“entahlah.
Kata kata itu muncul begitu saja”, kami pun banyak cerita mengenai pribadi kita
masing masing. Aki dengan sejumlah pengalaman yang hebat. Sebelumnya dia adalah
dokter spesialis kanker dan baru lima tahun dibidang tersebut. Dan sekarang ia
ditugaskan ke indonesia untuk menangani kasus penyakit kanker otak, yang
sebelumnya ia lebih sering menangani kasus kanker selain kanker otak. Dan ini
adalah pertama kali nya ia menangani al zheimer. Dari pengalaman yang bahagia
hingga pengalaman yang begitu pahit ia ceritakan padaku. Menurutku dia adalah
sosok pahlawan yang benar benar dibungkus dengan perawakan layaknya artis
jepang terkenal. Aku salut pada nya.
“bagaimana
dengan pengalaman mu?”, seketika aku terdiam. Aku tak bisa menjelaskan nya pada aki. I
can’t...
“maaf jika
saya lancang sebelumnya. Namun percayalah. Saya ingin tahu pengalaman mu saja.
Dan saya janji akan merahasiakan hal ini pada siapapun.”, lalu ku
ceritakan seluruh pengalaman hidup ku. Sejujurnya aku tak biasa bercerita
kepada seorang laki laki, apalagi laki laki yang baru ku kenal tadi pagi. Entah
kenapa ini bisa terjadi, tapi aku tetap ingin berbagi pengalaman ini dengan
dia.
“sokka, naruhodo. Sama dong.
Saya juga pernah mengalami hal itu. gagal dalam hubungan percintaan karena
orang tua mantan saya tidak setuju dengan saya. Alasan nya ini itu lah. Namun
bisa dipastikan semua itu bohong. Karena tak lama kemudian ia melangsungkan
pernikahan dengan lelaki lain. Kita sama, hanya beda waktu dan negara saja.”,
tangisan ku makin menjadi jadi akibat cerita ku sebelumnya. Tiba tiba aki
memeluk ku. Dia mempersilahkan aku untuk menangis. Tangisan itu semakin keras
dan semakin menjadi jadi. Aku tak peduli dengan pasien lain. Aku tak peduli
dengan sekitar ku. Yang pasti perasaan ku saat ini, aku hanya ingin tenang.
Tenang dan tenang.
********
to be continue.....






0 comments:
Post a Comment