Scene 1
Tempat :
Ruang kelas
Situasi :
Novia dan teman-teman sedang belajar, sang dosen sedang menerangkan materi,
sedangkan Novi dalam bayang-bayang ketakutan
Novia : (Tertunduk menatap kearah buku, tanpa
berkata apa- apa)
Teman Novia : Nov kenapa diam aja?
Biasanya serius merhatiin dosen.
Novia : Gak apa-apa kok. Cuma lagi gak enak
badan aja. (Kembali tertunduk menatap kearah buku, tanpa berkata apa-apa)
Scene 2
Tempat :
Ruang Kelas
Situasi :
Jam pelajaran sudah selesai. Mahasiswa keluar kelas, dan Novia keluar kelas
belakangan. Namun Novia tertahan karena dosen memanggil dan mengajak ngobrol Novia.
Dosen Dewi : Novia,
Novia : Iya Bu
Dosen Dewi : Bisa bicara sebentar?
Novia : (Langsung duduk berhadapan dengan
dosen Dewi)
Dosen Dewi : Selama pelajaran ibu perhatikan kamu diam saja. Gak seperti
biasanya. Kamu itu kenapa?
Novia :
Gak kenapa-napa Bu. Saya lagi gak enak badan (Sambil tertunduk malu). .
Dosen Dewi : Jangan gitu, ibu tahu kok
kamu punya masalah. Kamu bisa cerita sama ibu. Insya Allah kalau ibu bisa
bantu, ibu bantu kamu.
Novia : Beneran ibu, saya gak kenapa-napa.
Cuma lagi gak enak badan (Masih tertunduk malu).
Dosen Dewi : Sebelumnya ibu minta maaf ya. coba Novi lihat mata saya.
Novia : (Masih tertunduk malu)
Dosen dewi : Kamu cerita saja permasalahan kamu. Anggap aja saya ini ibu
kamu. Segala permasalahan bisa diselesaikan kok. Walaupun butuh waktu untuk
mengatasi masalah itu. Tapi kamu coba ceritakan apa permasalahan kamu.
Setidaknya beban kamu menjadi ringan.
Novia :
Novia malu Bu.
Dosen dewi : Malu kenapa Nov?
Novia : Novia belum isi KRS, Novia belum bayaran
bu. Novia malu sama teman-teman.
Dosen dewi : Kalau boleh tahu, orang tua Novia kerja apa?
Novia :
Gak kerja Bu.
Dosen dewi : Terus, selama ini Novia kuliah dibayarin sama siapa?
Novia :
Waktu semester kemarin hasil tabungan Novi waktu kerja kemarin. Cuma sekarang Novia
gak bekerja.
Dosen dewi : Sudah minta bantuan sama saudara Novia?
Novia : Sudah bu. Tapi saudara Novia lebih
mementingkan dirinya sendiri dari pada mementingkan saudaranya sendiri.
Sebenarnya Novi malu berbicara ini sama ibu (sambil menangis).
Dosen dewi : Ibu mengerti kok kondisi kamu saat ini. Ibu juga mengerti
sekali. Kamu yang sabar ya. Ini ujian buat kamu. Ibu yakin kamu bisa kok
menghadapi ini semua. Ibu percaya sama kamu. Kamu itu pintar.
Novia : Tetap aja saya takut bu setiap kali Novia
masuk kelas, ikuti pelajaran, dan setiap dosen mengabsen nama. Saya benar-benar
takut bu.
Dosen dewi : Jangan takut Nov. kamu di sini, kamu di kelas, dan kamu menyimak
itu menjadi ilmu buat kamu. Kuliah itu bukan hanya sekedar meraih gelar
sarjana, dan bukan hanya sekedar membeli nama dan kursi saja. Kuliah itu tempat
mencari ilmu untuk di implementasikan.
Novia : Iya Bu (Menunduk sambil menangis)
Dosen dewi : Sekarang gini aja, coba kamu bicara sama kaprodi, konsultasi,
dan ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Semoga ada jalan untuk kamu.
Novia : Iya ibu. Sebelumnya terima kasih
sudah mau mendengarkan cerita Novia.
Scene 3
Tempat :
Ruang Kaprodi
Situasi :Novia
sedang berkonsultasi dengan kaprodi, dan mendengar jawaban dari kaprodi
semangat Novia langsung hilang.
Kaprodi :
Iya ada yang bisa saya bantu?
Novia :
Begini Bu, saya ingin Tanya, kalau saya isi KRS telat gimana Bu? Sejujurnya
saya belum bayar kuliah. Belum ada dana untuk membayar biaya kuliah Bu.
Kaprodi :
Memang orang tua kamu tidak bekerja?
Novia :
Iya Bu. Saya dari keluarga yang tidak mampu.
Kaprodi :
Sebelumnya saya minta maaf untuk urusan ini saya gak bisa membantu. Tapi kamu coba
aja konsultasi sama bagian Biro Akademik atau bagian keuangan. Karena yang
punya wewenang itu beliau. Saya hanya memberi saran saja.
Novia : Oh gitu ya Bu. (Sambil menunduk)
Kaprodi :
Sekali lagi saya minta maaf Novia, saya benar-benar tidak bisa bantu kamu.
Scene 4
Tempat :
Ruang Biro Akademik
Situasi :Novia
sedang berkonsultasi dengan Biro Akademik, dan mendengar jawaban dari beliau semangat
Novia kembali hilang.
Biro Akademik :
Iya ada yang bisa saya bantu?
Novia : Begini Pak, saya ingin Tanya, kalau
saya isi KRS telat gimana Pak? Sejujurnya saya belum bayar kuliah. Belum ada dana
untuk membayar biaya kuliah Pak.
Biro Akademik : Memang orang tua kamu tidak bekerja?
Novia : (Dubbing:
Kenapa harus ada pertanyaan ini lagi sih?) Iya Pak. Saya dari keluarga yang
tidak mampu.
Biro Akademik : Sebelumnya saya minta maaf untuk urusan ini saya gak bisa
membantu. Karena saya sudah rapat dengan bagian keuangan dan seluruh staf Akademik
mengenai masalah ini. Tapi untuk masalah itu, coba saja kamu konsultasi bagian
kepala keuangan nya. Semoga saja bisa membantu kamu. Karena yang punya wewenang
itu beliau.
Novia : Oh gitu ya Pak. (Sambil menunduk)
Biro Akademik : Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak bisa
bantu kamu.
Scene 5
Tempat :
Di tempat duduk depan Kelas
Situasi :
Novia berjalan perlahan, lalu duduk tertunduk dan menangis. Kecewa dengan hasil
usaha nya.
Novia :
(Dubbing) kenapa harus seperti ini.
Aku benci semua ini. Benci.
Scene 6
Tempat :
Ruang Kelas
Situasi :
Novia dan teman-teman sedang belajar, sang dosen sedang menerangkan materi,
sedangkan Novi dalam bayang-bayang ketakutan
Novia :
(Terduduk takut seperti biasanya)
Dosen :
(Masih menerangkan materi, tak lama kemudian mengabsen nama mahasiswa) baik, saya
akan absen satu persatu. (Sebut nama mahasiswa)
Dosen :
Ada yang belum saya sebutkan?
Teman Novia 1 : Novia belum Bu.
Dosen :
Tapi di database saya gak ada nama Novia.
Jefri :
Belum bayaran Bu Novia mah.
Novia :
(Kesal dengan ucapan Jefri, lalu pergi meninggalkan kelas)
Teman Novia 1: Elo Jef, harusnya gak
ngomong gitu.
Jefri :
Lah, salah gue apa coba? Emang kenyataan nya gitu.
Teman Novia 1: Elo Jef, demi apapun gue
gak suka cara elo.
Teman Novia 2: Seenggaknya elo jaga
perasaan Novia. Coba kalau elo ada di posisi dia. Apa lo gak malu?
Jefri :
Lah, terus gue harus diem gitu? Kalau dosen nanya ta……
Dosen :
Sudah sudah. Kita lanjutkan materinya.
Teman Novia 1: Sumpah Jef, elo bener
bener gak punya hati.
Scene 7
Tempat : Tangga samping kampus
Situasi: Novia menangis tidak terima
dengan perkataan Jefri.
Novia :
Aku sadar, aku bukan anak orang kaya. Aku hanya anak dari keluarga miskin yang
gak sanggup untuk membiayai pendidikan ku. Aku Cuma seorang anak miskin yang
mempunyai mimpi untuk kuliah. Kenapa harus seperti ini? Seandainya saja aku
anak orang kaya, gak mungkin aku gak merasakan hal sepahit ini. Ya Allah,
cobaan apa lagi yang kau beri padaku? (Tanpa berpikir lama, Novia langsung
menuju loteng atas)
Scene 8
Tempat : Ruang Kaprodi
Situasi :Dosen Dewi sedang
membicarakan tentang Novia bersama Kaprodi
Dosen Dewi :
Permisi,
Kaprodi : Oh
iya Bu Dewi. Silahkan masuk.
Dosen Dewi : (Sambil masuk dan duduk di
ruangan Kaprodi)
Kaprodi : Iya
Bu, ada apa ya.
Dosen Dewi: Begini Bu, saya disini mau membahas tentang Novia.
Kaprodi : Oh
iya, kemarin Novia sudah
menghadap Bu ke saya.
Dosen Dewi : Terus bagaimana Bu kelanjutannya?
Kaprodi :
Sejujurnya saya ingin bantu Novia. Tapi ini
sudah kebijakan dari Kabiro Akademik. Jadi saya benar-benar gak bisa ambil keputusan.
Dosen Dewi : Iya
saya mengerti Bu. Namun sangat
disayangkan potensi belajar yang dimiliki Novia sangat bagus. Dan saya dengar juga, Novia atlet bela diri nasional. Sudah mengharumkan nama
kampus juga.
Kaprodi : Iya
benar Bu. Saya juga
sangat menyayangkan hal itu. Saya juga bingung harus bagaimana.
Dosen Dewi : apa
sebaiknya kita bicara langsung sama pejabat kampus? Semoga aja ada toleransi
untuk Novia. Saya
khawatir, Novia malah makin stres dan dia pasti minder sama teman-teman kelasnya.
Kaprodi :
Saya sudah suruh Novia menghadap
beliau. Tapi saya belum dapat kabar apa-apa dari Novia. Saya juga
khawatir.
Dosen Dewi :
Sebaiknya kita tanya saja langsung sama Novia. Tapi tetap kita juga harus menghadap ke Pak Kabiro Akademik. Semoga saja dengan kita yang berbicara, ada
toleransi dari pihak kampus.
Kaprodi :
(Tarik Nafas) Baik Bu. Kita jadwalkan
saja segera dengan beliau.
Scene 9
Tempat : Ruang Rapat
Situasi :Kaprodi bersama
Dosen Dewi menghadap dan berbicara mengenai Novia bersama petinggi Kampus.
Kaprodi :
Jadi begini, ada mahasiswi saya yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan.
Namanya Novia dan.. (Dipotong pembicaraan oleh Kabiro Akademik)
Kabiro Akademik :
Oh iya kemarin Novia sudah
menghadap saya. Sebenarnya saya tidak tahu permasalahannya apa. Namun saya juga
tetap tidak bisa bantu. Karena sudah kebijakan dari kampus seperti itu.
Dosen Dewi :
Maaf sebelumnya, menurut saya Novia mempunyai
potensi belajar yang sangat tinggi. Dia cerdas, dan berprestasi. Bahkan dia
juga pernah mengikuti lomba atas nama kampus.
Kabiro Akademik :
Namun tetap saja Bu bukan wewenang
saya. Saya juga bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Karena yang
punya wewenang itu Kabiro keuangan.
Kaprodi : Tapi Pak, seharusnya kita beri dia satu kesempatan untuk bisa
belajar disini, dan diakui juga. Karena percuma banyak mahasiswa yang
sebenarnya mampu untuk kuliah namun ia hanya mengandalkan biaya kuliah saja,
tapi tanggung jawab sebagai mahasiswa tidak dilaksanakan. Banyak lho pak yang
seperti itu. Apa bapak tidak mau menerima resiko seperti itu?
Kabiro Akademik :
Iya ibu saya mengerti. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.......... (kepotong pembicaraan karena kabiro
keuangan masuk kedalam ruang rapat).
Kabiro Keuangan :
(Masuk dan langsung duduk di tempat rapat). Jadi bagaimana awalnya? Saya dapat
sms dari pak kabiro, jadi saya langsung kesini.
Kaprodi :
(Mengulang cerita dari awal). Jadi
begini, ada mahasiswi saya yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan.
Namanya Novia dan saya
pikir kita harus menolong Novia.
Kabiro Keuangan :
memangnya kenapa dengan Novia?
Dosen Dewi :
Dia merupakan salah satu mahasiswi kampus ini yang tidak mampu untuk membiayai
perkuliahan semester ini. Karena Novia berasal dari
keluarga tidak mampu. Namun Novia mempunyai
potensi tinggi dalam belajar. Dia juga cerdas. Selain itu, ia juga sering dapat
juara dalam perlombaan membawa nama kampus. Menurut saya, Novia mempunyai potensi tinggi.
Kabiro Keuangan :
Saya mengerti. Namun sebelumnya ibu sudah tahu peraturannya seperti apa.
Mungkin Pak Kabiro sudah memberitahukan sebelumnya.
Kaprodi :
Saya mengerti. Tapi saya mohon tolong bapak pertimbangkan kembali. Banyak
mahasiswa yang sebenarnya ia cerdas dalam akademis atau ia berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademis tapi selalu terbentur dalam masalah keuangan,
sementara banyak mahasiswa yang sebenarnya ia tidak ada masalah dalam ekonomi
namun ia melepaskan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Apakah ini adil untuk
orang orang yang mempunyai potensi tinggi seperti Novia?
Kabiro Keuangan dan Kabiro Akademik : (Memasang wajah berpikir dan
berdiskusi)
Dosen Dewi :
Sebelumnya kami meminta maaf sama bapak atas permintaan kami. Tapi saya harap
bapak bisa memberi kebijaksanaan nya. Karena sangat disayangkan mahasiswa yang
berpotensi dibiarkan gitu saja.
Kabiro Keuangan :
Sebelumnya saya
minta maaf. Sesuai dengan prosedur, saya dan Kabiro Akademik tidak bisa
membantu Novia. Sekali lagi
saya mohon maaf.
Kaprodi dan Dosen Dewi :
(Memasang wajah kecewa)
Scene 10
Tempat :
Kantin Kampus, atau lobby kampus,
atau suatu tempat yang rame dan view
nya mendukung
Situasi :
Teman-teman Novia sedang
memungut sumbangan untuk Novia. Tiba-tiba Dosen Dewi dan Kaprodi berjalan di depan teman-teman Novia dan melihat kotak amal itu untuk Novia.
Teman-Teman Novia : Ayo
kaka mohon sumbangan nya untuk teman kami. Sumbangan nya..
Dosen Dewi :
lho, kalian kenapa di sini? (sambil melihat kotak amal)
Kaprodi :
Iya kalian ngapain
di sini? Bukannya tidak boleh ya meminta sumbangan di sini?
Teman-Teman Novia : Kami
ingin membantu Novia. Karena kami
peduli dengan Novia. (sambil
melanjutkan meminta sumbangan, lalu Dosen Dewi dan Kaprodi pergi
meninggalkan teman Novia).
Scene 11
Tempat :
Ruang Kaprodi
Situasi : Dosen Dewi dan Kaprodi sedang berdiskusi mengenai kejadian tadi.
Kaprodi : Apakah kita harus membantu Novia?
Dosen Dewi : Saya berniat untuk membantu Novia untuk masalah finansial. Saya mengerti masalah Novia, karena saya juga pernah mengalami hal serupa.
Kaprodi : Sejujurnya saya bingung dan kecewa. Kecewa karena pejabat
kampus tidak memberi kelonggaran untuk Novia. Dan saya bingung saya harus mengambil tindakan
seperti apa? Karena saya sendiri juga benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan?
Dosen dewi : Sebaiknya kita bantu saja Novia dalam hal finansial. Saya jamin dengan begini
semangat Novia bisa kembali
seperti semula. Dan saya yakin karena Novia adalah
mahasiswi saya yang cerdas.
Kaprodi : (Masih berpikir) apa sebaiknya saya mendaftarkan dia untuk
mengikuti beasiswa kampus? Tapi itu belum dibuka pendaftaranya.
Dosen Dewi : (Menghela nafas),
kita bantu Novia semaksimal
kita.
Scene 12
Tempat :
Loteng Kampus
Situasi :
Novia sedang berbaring menatap langit yang cerah dari atas loteng kampus. Merasakan putus asa dan menangis,
merenung, juga sedang menyesal. Kemudian Novia berdiri lalu
merasa tidak ada harapan lagi, ia mencoba untuk bunuh diri. Lalu datang teman Novia untuk menghentikan aksi bunuh diri, dan
mencoba untuk menyemangati Novia.
Novia : (Dubbing)”Kenapa
harus seperti ini? Kenapa? Apa gak ada jalan lain? Kenapa harus aku yang
merasakannya? Kenapa harus aku? Kenapa? Seandainya saja aku …. Tidak! Sudah
cukup aku merasakan ini semua. Cukup. Mungkin aku akhiri semuanya di sini. Di sini..
Dari arah kejauhan
datanglah teman teman Novia untuk
mencegah aksi bunuh diri.
Teman Novia1 : Novia, please
jangan loncat dari situ. Please
Teman Novia2 : Iya Nov. Jangan nekat kayak gini. Certain sama kita. Ada
apa masalahnya?
Novia :
Udah gak ada lagi yang bisa diharapkan. Jangan halangi aku.
Teman Novia1 : Please Nov. Kita
sayang sama kamu.
Teman Novia2 : Iya Nov. Tolong jangan loncat ya.
Novia :
Udah gak ada harapan lagi. (Berancang ancang untuk loncat kebawah).
Teman-Temen Novia : NOVIA… (Berteriak, langsung menarik Novia
dan mereka akhirnya jatuh.)
Scene 13
Tempat :
Tangga Kampus
Situasi :
Teman Novia mencoba untuk membujuk Novia dan memberi semangat kepada Novia.
Teman Novia 1 : Novia, kamu kenapa? Bisa curhat kok sama kita. Kamu cerita
aja.
Teman Novia 2 : Iya Nov, cerita aja sama kita. Kenapa?
Teman Novia 1 : Ikh, kamu mah ikutin aja.
Teman Novia 2 : Ya maaf atuh. Mau bagaimana lagi (sambil ketawa kecil)
Novia :
Aku udah bingung banget. Kayaknya udah gak ada harapan lagi. Aku kuliah tapi
nama ku benar-benar tidak terdaftar. Maklum aku belum bayaran. Ditambah Jefri
bener-bener bikin emosi. Selalu menghina aku.
Teman Novia 1 : Sebelumnya kamu udah nyoba konsultasi sama Kaprodi?
Novia :
Belum sih. Tapi aku
benar-benar takut.
Teman Novia 2 : Jangan takut untuk selalu maju. Kita di sini itu untuk
mencari ilmu, bukan untuk mencari gelar. Kalaupun emang kamu gak diakui?
Setidaknya kamu bisa mencuri ilmu yang sudah kamu dapatkan. Tapi kalau dipikir-pikir, kamu kan banyak prestasi, kenapa kampus gak bisa
bantu kamu ya?
Teman Novia 1 : (Sambil memukul ke teman Novia 2) shuuutt.. kamu. Jangan
gitu!
Novia :
Entahlah. Tapi ada benarnya juga. Hanya saja aku malu setiap belajar namaku tidak
dipanggil. Setiap belajar selalu ditanya sudah absen apa belum? Setiap ditanya
oleh dosen, aku Cuma bisa tunduk malu. Aku benar-benar bingung. Aku benar-benar
membuat kecewa orang tua ku. Aku sadar siapa aku. Seandainya saja aku punya
uang banyak. Mungkin aku bisa menyelesaikan studi ku dengan lancar.
Teman Novia 1 : Belum tentu. Mungkin kalau kamu punya banyak uang, kamu akan
lupa dengan belajar. Kamu akan lupa dengan ibadah, kamu akan lupa dengan semua
orang yang sudah saying sama kamu.
Dan satu hal yang paling penting, kalau kamu punya banyak uang, bisa saja kamu
melupakan Allah. Sebaiknya kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang.
Kamu tuh pintar,
cerdas, banyak prestasi pula. Kamu Terus
raih mimpi mu, jangan menyerah. Dan selalu meminta kepada Allah. Insya Allah
kamu selalu berada dalam lindungan Allah. Makanya kamu rajin ibadah, rajin
curhat sama Allah.
Teman Novia 2 : Iya bener tuh rajin ibadah. Terus jangan lupa, kita selalu
bantu kamu kok. Jangan menyerah ya.
Teman Novia 1 :
Oh iya kita ada sedikit hadiah untuk kamu. (memberi amplop untuk Novia)
Novia :
Apaan ini? (Sambil membuka isi amplop dan Novia kaget melihat uang yang ia dapati dari teman-temannya)
Teman Novia 2 : Ini hasil kerja keras kita untuk kamu. Kita peduli sama kamu. Kamu pake
uang ini untuk biaya kuliah kamu. Walaupun gak seberapa. Setidaknya mengurangi
biaya kuliah kamu.
Novia :
Ta... Ta... Tapi? Kenapa kalian? (Masih kaget dan terharu)
Teman Novia 1 : Kita sayang sama kamu. Gunakanlah untuk biaya kuliah kamu ya.
Novia :
(Menangis terharu
sambil memeluk sahabat nya). Terima kasih, terima kasih, terima kasih semuanya.
Terima kasih
Scene 14
Tempat : Lobby Kampus
Situasi :Novia menuju ruang
keuangan, dan tidak sengaja menabrak Faisal.
Novia : Eh, ka Faisal. Maaf-maaf. Gak sengaja.
Faisal :
Ada juga kaka yang minta maaf. Kamu mau kemana?
Novia :
Mau kesini ka. Kakak ada mata kuliah?
Faisal : Iya kuliah. Tapi belum ada dosen nya. Kamu gak masuk?
Novia : (Tidak menjawab, hanya tertunduk malu).
Faisal :
Kenapa?
Novia : Oh
gak apa-apa ka. Novia
belum bayaran. Jadi Novia gak masuk.
Kan gak boleh masuk kalau belum ada nama di absen.
Faisal : Sama, kakak juga belum ada nama nya di absen. Oh iya,
kemarin sore kakak liat kamu naek ke atas loteng. Kayaknya lagi sedih gitu. Ada
apa?
Novia :
Gak apa-apa kok (Berbicara gugup)
Faisal : Cerita aja sama kakak.
Novia : Novia malu ka.
Faisal :
Karena belum bayaran?
Novia : Iya kak.
Faisal : Sama kakak juga pernah mengalami itu kok. Tapi semua itu
bisa diatasi. Alhamdulillah.
Novia : Hehehe.. Iya kak
alhamdulillah (Memaksa untuk
tersenyum).
Faisal : Kakak juga sama dari keluarga yang tidak mampu. Tapi kakak
percaya, di balik itu semua
pasti ada jalan keluar. Asalkan kita selalu optimis. Percaya sama Allah, setiap masalah ada hikmahnya. Dan selalu ada jalan
keluar bagi kita yang selalu optimis. Jadi semangat terus ya.
Novia :
Iya kak, makasih ya atas sarannya.
Faisal : Sama–sama. Oya kakak masuk kelas dulu ya. Udah ada dosennya. (Berjalan sambil
pergi)
Scene 15
Tempat : Ruang Keuangan
Situasi :
Novia menanyakan
pembayaran kuliah.
Novia :
Permisi Mba, mau nanya
kalau atas nama Novia Andriana Nim 51113565 berapa
lagi Mba?
Admin Keuangan :
Sebentar saya cek dulu (Sambil mengecek),
sudah lunas mba.
Novia :
Hah, Lunas? Beneran Mba? (dubbing: siapa yang bayarin?)
Admin Keuangan :
Novia Andriana kan? Nim nya 51113565? Sudah lunas Mba.
Novia : Oh makasih ya Mba. (Berjalan meninggalkan Mba admin keuangan. Sambil berpikir juga)
Dosen Dewi :
(Sambil mengabsen mahasiswa), ...................., Novia?
Novia :
(Masih Menunduk menatap buku)
Dosen Dewi :
Novia??
Novia : Ah.. i.. iya hadir Bu (Kaget).
Dosen Dewi :
(Memberikan Senyuman Kepada Novia.
Novia membalas
senyuman Dosen Dewi).
2 Jam Kemudian
Dosen Dewi : Baik
materi hari ini cukup. Kita lanjutkan minggu depan.
Teman-Teman Novia : (Siap-siap pulang dan ada yang langsung meninggalkan kelas).
Dosen Dewi : Novia,
Novia :
Iya bu.
Dosen Dewi : Bisa
kita bicara sebentar?
Novia :
(Sambil duduk di hadapan dosen Dewi), Iya ada apa Bu?
Dosen Dewi : Saya
sudah bicara dengan petinggi kampus sama kaprodi. Jadi hasilnya kamu boleh
mengikuti perkuliahan. Jadi nama kamu ada di absen saya, juga ada di absen
dosen yang lain.
Novia : (Memasang
wajah Senang), Sungguh Bu? Ibu gak bohong
kan?
Dosen Dewi : Iya
saya gak bohong. Makanya saya panggil nama kamu.
Novia :
Terima kasih Bu terima kasih.
Terima kasih Bu (Bersalaman sambil menangis terharu)
Dosen Dewi : Iya
sama sama. Kamu harus terima kasih sama Allah. Semua ini berkat usaha kamu yang selalu optimis.
Novia :
Terima kasih Bu
-
The End -.